Negeri Para Burung
Hujan
masih menyisakan jejaknya, daun basah dan bau tanah basah seolah memberikan
sebuah kesegaran. Sore itu di sebuah hutan, tupai masih enggan keluar dari
singgasananya, burung- burung juga enggan bertebangan, bahkan semua penduduk
hutan seolah enggan meninggalkan rumahnya walau sejengkal karena bisa jadi
sebentar lagi akan masih turun hujan.
Pak
Nano, sang kepala desa pun tak kunjung berhenti melihat keluar jendela. Ia
masih saja terus memikirkan nasib warganya.
“sudahlah
pak, ini tehnya sampai dingin tak diminum” ujar Bu Siti, Istri kepala desa.
“iya,
Nanti aku minum bu, letakkan saja disitu” jawab Pak Nano
“sebenarnya
ada apa pak? Sedari tadi bapak tak beranjak dari jendela” tanya Bu Siti
“aku
memikirkan nasib warga yang lain bu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup jiga
tidak bisa keluar rumah” jawab Pak Nano
“loh,
mereka kan punya persediaan pak, yang dikumpulkan sewaktu musim panas seperti
milik kita” tambah Bu Siti
“sampai
kapan?” tanya Pak Nano pelan
“kita
hanya...” jawab Bu Siti namun tiba- tiba terdengar suara pintu diketuk
“lihat
dulu saja bu, siapa yang datang” suruh Pak Nano
Bu
Siti pun langsung pergi menuju pintu.
“pak,
ada nak rendra dan kawan- kawannya” Kata Bu Siti
“suruh
tunggu saja di ruang tamu bu, saya kesana” jawab Pak Nano
***
Akhirnya
terjadilah pertemuan kecil antara Pak Nano sebagai kepala desa dan rendra
beserta kawan- kawannya dari pemuda karang taruna. Mereka membicarakan
bagaimana nantinya nasib para warga jika dalam waktu yang lama tidak bisa pergi
mencari makan. Setelah tiga jam berlalu, akhirnya pak Nano memutuskan untuk mengajak warganya
pergi ke negeri selatan esok hari jika cuaca tidak terlalu gelap dan dingin.
Mereka akan mengungsi di daerah selatan sementara waktu.
***
Keesokan
harinya, warga dikumpulkan di ruang pertemuan kampung damai. Pertemuan itu
dipimpin langsung oelh Pak Nano
“Nun
jauh disana, Syurga berdiri megah menanti para penghuninya. Menampilkan sejuta
pesona alam yang tak tertandingkan. Di sana pantai menyajikan keindahanya bersama
debur ombak. Disandingkan dengan hamparan pasir. Di sana, pohon kelapa berbaris
melambai lambai. Menyambut nelayan membawa berkah alam, warga- wargaku sudah
seharusnya kita pergi ke negeri selatan terlebih dahulu. Kita cari penghidupan
disana yang lebih baik. Cuaca disana pastilah dapat membuat kita hidup lebih
baik.” Pidato Pak Nano
“tapi
Pak, bagaimana kita bisa meninggalkan kampung damai ini?” tanya seorang warga
“betul
pak, bagaimana kami bisa meninggalkan rumah yang telah kami bangun?” timpal seorang
warga lagi.
“tenang
saja, kita pergi untuk kembali, jika cuaca sudah membaik kita akan kembali
tinggal lagi di kampung kita” jelas Pak Nano
“Pak
Nano, aku memikirkan anakku, dia masih terlalu kecil untk\uk diajak terbang
jauh” kata seorang warga khawatir
“saya
sudah memikirkan itu, anak- anak dan ibu ibu akan berada di barisan tengah
dikawal bapak- bapak. Jika keadaanya tidak mendukung kita mencari tempat
bersinggah terlebih dahulu” jelas Pak Nano
***
Akhirnya
warga kampung damai pun pergi ke negeri selatan untuk mencari penghidupan yang
lebih baik. Mereka berbondong- bondong pergi secara damai. Para lelaki
melindungi para wanita dan anak- anak.
***
Waktu
pun berlalu. Tiga bulan sudah terlewati, Pak Nano pun mendengar kabar bahwa
cuaca di kampung damai sudah normal kembali. akhirnya ia dan warganya
memutuskan untuk kembali esok hari
***
Perjalanan
pulang kali ini terasa lebih ringan daripada saat pergi kemarin, karena cuaca
sekarang sudah kembali normal. Para warga kampung damai pun pulang ke rumahnya
dengan persaan gembira, sehingga mereka tidak merasa lelah. Mereka pun
bernyanyi di sepangjang jalan, menimbulkan suara yang sangat merdu.
Disana
Gunung menyajikan keindahan hijaunya alam
Semilir
angin nan sejuk bertiup semilir
Pohon
beriringan berbaris menampilkan kerindangan
Di
sini sejuta hewan hidup dalam kedamaian
Jutaan
tanaman menancap diatas bumi
***
Sesampainya
di kampung damai...
“wah,,
Pak Nano!!! Teman- teman!!! kenapa bentuknya jadi seperti ini???” teriak Rendra
mengejutkan
Para
warga pun terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka. Rumah mereka
menghilang, yang ada hanyalah tanah kosong.
“Pak
Nano apa mungkin kita salah arah?” tanya seorang warga penasaran
“ah,
tidak mungkin rasanya” timpal warga lainnya
Pak
Nano pun hanya diam, dia mulai paham apa yang terjadi. Hal yang ditakutinya
selama ini akhirmya terjadi, sudah beberapa bulan belakangan ini ia melihat
para manusia sering sekali mengelilingi kampung damainya. Muka para manusia itu
sangatlah serius seperti merencanakan hal yang besar. Pak Nano sempat
berprasangka jelek. Namun, ternyata benar. Pohon- pohon yang mereka tinggalkan
tiga bulan yang lalu sudah menhilang, lenyap tanpa bekas.
“pak
Nano sebenarnya apa yang terjadi?” teriak salah seorang warga mengagetkannya.
“sudah,
Pak Nano sedang berfikir rencana kita selanjutnya” jelas Rendra
“bukan
itu maksudku pak, aku masih belum paham apa sebenarnya yang terjadi? Apa kita
salah meninggalkan rumah kita selama tiga bulan? ”
“wargaku,
sebaiknya kita bersinggah terlebih dahulu di pohon beasr itu, hari sudah malam,
mari kita beristirahat sejenak” jelas Pak Nano sambil menunjuk pohon besar di
arah selatan
Para
warga pun menuruti intruksi Pak Nano, mereka pun kembali terbang bebalik arah
menuju pohon besar yang dimaksud Pak Nano.
***
Malam
pun tiba, para warga kampung damai sudah berkumpul, mereka masih bertanya-
tanya sebenarnya apa yang terjadi pada rumah-rumah mereka.
“warga
kampung damaiku, sepertinya kita memang harus mencari tempat lain, rumah- rumah
kita sudah hilang. Kam...”
“Kenapa
Pak Nano? Kenapa hanya tanah?” potong seorang ibu
“iya,
sepertinya manusia membutuhkan rumah kita” jelas pak Nano
“
Pak Nano, bukannya bumi makin gersang jika rumah kita
hilang? Bumi akan kian
rapuh diterpa bencana. Tak lama banjir
menerjang semua dan kekeringan
menghempaskan kehijauan” tanya seorang wanita
Warga
pun terdiam, mereka pun tak tahu harus berkomentar apa, mereka hanya berharap
menemukan kembali rumah mereka.
No comments:
Post a Comment