Anak Rantau Penikmat Senja

Orang biasa yang masih terus belajar dan melatih syukur

Tuesday, 29 September 2015

cerpen nuansa sastra hijau



Negeri Para Burung

Hujan masih menyisakan jejaknya, daun basah dan bau tanah basah seolah memberikan sebuah kesegaran. Sore itu di sebuah hutan, tupai masih enggan keluar dari singgasananya, burung- burung juga enggan bertebangan, bahkan semua penduduk hutan seolah enggan meninggalkan rumahnya walau sejengkal karena bisa jadi sebentar lagi akan masih turun hujan.
Pak Nano, sang kepala desa pun tak kunjung berhenti melihat keluar jendela. Ia masih saja terus memikirkan nasib warganya.
“sudahlah pak, ini tehnya sampai dingin tak diminum” ujar Bu Siti, Istri kepala desa.
“iya, Nanti aku minum bu, letakkan saja disitu” jawab Pak Nano
“sebenarnya ada apa pak? Sedari tadi bapak tak beranjak dari jendela” tanya Bu Siti
“aku memikirkan nasib warga yang lain bu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup jiga tidak bisa keluar rumah” jawab Pak Nano
“loh, mereka kan punya persediaan pak, yang dikumpulkan sewaktu musim panas seperti milik kita” tambah Bu Siti
“sampai kapan?” tanya Pak Nano pelan
“kita hanya...” jawab Bu Siti namun tiba- tiba terdengar suara pintu diketuk
“lihat dulu saja bu, siapa yang datang” suruh Pak Nano
Bu Siti pun langsung pergi menuju pintu.
“pak, ada nak rendra dan kawan- kawannya” Kata Bu Siti
“suruh tunggu saja di ruang tamu bu, saya kesana” jawab Pak Nano

***
Akhirnya terjadilah pertemuan kecil antara Pak Nano sebagai kepala desa dan rendra beserta kawan- kawannya dari pemuda karang taruna. Mereka membicarakan bagaimana nantinya nasib para warga jika dalam waktu yang lama tidak bisa pergi mencari makan. Setelah tiga jam berlalu, akhirnya  pak Nano memutuskan untuk mengajak warganya pergi ke negeri selatan esok hari jika cuaca tidak terlalu gelap dan dingin. Mereka akan mengungsi di daerah selatan sementara waktu.
***
Keesokan harinya, warga dikumpulkan di ruang pertemuan kampung damai. Pertemuan itu dipimpin langsung oelh Pak Nano
“Nun jauh disana, Syurga berdiri megah menanti para penghuninya. Menampilkan sejuta pesona alam yang tak tertandingkan. Di sana pantai menyajikan keindahanya bersama debur ombak. Disandingkan dengan hamparan pasir. Di sana, pohon kelapa berbaris melambai lambai. Menyambut nelayan membawa berkah alam, warga- wargaku sudah seharusnya kita pergi ke negeri selatan terlebih dahulu. Kita cari penghidupan disana yang lebih baik. Cuaca disana pastilah dapat membuat kita hidup lebih baik.” Pidato Pak Nano
“tapi Pak, bagaimana kita bisa meninggalkan kampung damai ini?” tanya seorang warga
“betul pak, bagaimana kami bisa meninggalkan rumah yang telah kami bangun?” timpal seorang warga lagi.
“tenang saja, kita pergi untuk kembali, jika cuaca sudah membaik kita akan kembali tinggal lagi di kampung kita” jelas Pak Nano
“Pak Nano, aku memikirkan anakku, dia masih terlalu kecil untk\uk diajak terbang jauh” kata seorang warga khawatir
“saya sudah memikirkan itu, anak- anak dan ibu ibu akan berada di barisan tengah dikawal bapak- bapak. Jika keadaanya tidak mendukung kita mencari tempat bersinggah terlebih dahulu” jelas Pak Nano
***
Akhirnya warga kampung damai pun pergi ke negeri selatan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Mereka berbondong- bondong pergi secara damai. Para lelaki melindungi para wanita dan anak- anak.


***
Waktu pun berlalu. Tiga bulan sudah terlewati, Pak Nano pun mendengar kabar bahwa cuaca di kampung damai sudah normal kembali. akhirnya ia dan warganya memutuskan untuk kembali esok hari
***
Perjalanan pulang kali ini terasa lebih ringan daripada saat pergi kemarin, karena cuaca sekarang sudah kembali normal. Para warga kampung damai pun pulang ke rumahnya dengan persaan gembira, sehingga mereka tidak merasa lelah. Mereka pun bernyanyi di sepangjang jalan, menimbulkan suara yang sangat merdu.
Disana Gunung menyajikan keindahan hijaunya alam
Semilir angin nan sejuk bertiup semilir
Pohon beriringan berbaris menampilkan kerindangan
Di sini sejuta hewan hidup dalam kedamaian
Jutaan tanaman menancap diatas bumi

***
Sesampainya di kampung damai...
“wah,, Pak Nano!!! Teman- teman!!! kenapa bentuknya jadi seperti ini???” teriak Rendra mengejutkan
Para warga pun terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka. Rumah mereka menghilang, yang ada hanyalah tanah kosong.
“Pak Nano apa mungkin kita salah arah?” tanya seorang warga penasaran
“ah, tidak mungkin rasanya” timpal warga lainnya
Pak Nano pun hanya diam, dia mulai paham apa yang terjadi. Hal yang ditakutinya selama ini akhirmya terjadi, sudah beberapa bulan belakangan ini ia melihat para manusia sering sekali mengelilingi kampung damainya. Muka para manusia itu sangatlah serius seperti merencanakan hal yang besar. Pak Nano sempat berprasangka jelek. Namun, ternyata benar. Pohon- pohon yang mereka tinggalkan tiga bulan yang lalu sudah menhilang, lenyap tanpa bekas.
“pak Nano sebenarnya apa yang terjadi?” teriak salah seorang warga mengagetkannya.
“sudah, Pak Nano sedang berfikir rencana kita selanjutnya” jelas Rendra
“bukan itu maksudku pak, aku masih belum paham apa sebenarnya yang terjadi? Apa kita salah meninggalkan rumah kita selama tiga bulan? ”
“wargaku, sebaiknya kita bersinggah terlebih dahulu di pohon beasr itu, hari sudah malam, mari kita beristirahat sejenak” jelas Pak Nano sambil menunjuk pohon besar di arah selatan
Para warga pun menuruti intruksi Pak Nano, mereka pun kembali terbang bebalik arah menuju pohon besar yang dimaksud Pak Nano.
***
Malam pun tiba, para warga kampung damai sudah berkumpul, mereka masih bertanya- tanya sebenarnya apa yang terjadi pada rumah-rumah mereka.
“warga kampung damaiku, sepertinya kita memang harus mencari tempat lain, rumah- rumah kita sudah hilang. Kam...”
“Kenapa Pak Nano? Kenapa hanya tanah?” potong seorang ibu
“iya, sepertinya manusia membutuhkan rumah kita” jelas pak Nano
“ Pak Nano, bukannya bumi makin gersang jika rumah kita hilang? Bumi akan kian rapuh diterpa bencana. Tak lama banjir menerjang semua dan kekeringan menghempaskan kehijauan” tanya seorang wanita
Warga pun terdiam, mereka pun tak tahu harus berkomentar apa, mereka hanya berharap menemukan kembali rumah mereka.


No comments:

Post a Comment