Anak Rantau Penikmat Senja

Orang biasa yang masih terus belajar dan melatih syukur

Tuesday, 1 July 2014

A Thousand Splendid Suns


 siapa yang menyangka kalau ma ngeresensi buku ini setelah di minta orang untuk skripsinya hahha
lumayanlah~
ini super banget!nyesek! konflik batinnya dapet!
dan, lebih kerennya kalau baca novelnya langsung bahasa arab, bukan terjemahan :)

Mariam seorang anak berumur 15 tahun yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, Nana. Tidak, Mariam bukanlah seorang anak yatim, ia masih memiliki seorang ayah, yang bahkan mengunjunginya seminggu sekali dalam hidupnya. Apakah kedua orangtuanya bercerai? Tidak, tidak mungkin karena menikah saja keduanya tidak.
Mariam adalah seorang harami, bayi yang terlahir bukan berasal dari pernikahan namun hasil perzinahan yang dilakukan seorang tuan kepada pelayannya yang masih muda lagi miskin. Ketika Nana ketahuan hamil, ia diusir dari kediaman keluarga besar Jalil, seorang saudagar kaya yang terhormat di sebuah kita kecil bernama Herat, yang merupakan ayah kandung Mariam.
Walaupun diusir, namun Jalil masih memperdulikan kehidupan Nana dan calon bayinya. Dibangunkan sebuah kolba di desa dekat Herat. Walaupun kondisinya sangat berbeda dari kehidupan Jalil yang mewah dan serba cukup, namun semua proses pembangunan tempat tinggal nana dan maryam dilakukan oleh tangan Jalil sendiri dengan bantuan 2 putranya, sebuah cara untuk membayar dosa.
Mariam kecil tidak pernah mengerti arti sulit yang Ibunya lalui dalam hidup. Di matanya ia adalah seorang putri yang memiliki ayah yang baik, yang selalu menceritakan hal-hal indah yang ada di luar sana. Yang memberitahukannya bahwa ia memiliki banyak saudara.  Saat Nana mengatainya dengan sebutan harami, Mariam tidak mengerti. Yang ia tahu selama ini, ibunya tidak pernah mengharapkan maryam untuk bahagia. Mariam kecil sangat mencintai Jalil,  ia selalu merindukan hari pertemuan mereka, hari Kamis.
Pada hari itu, Jalil akan datang dengan tampilan rapi berambut kelimis dengan aroma tubuh yang lembut. Di hari itu mereka akan menghabiskan waktu berdua. Bermain di sungai, melewti ilalang, mendengar cerita-cerita indah jalil tentang herat dan keluarganya. Mariam sangat merasa bangga pada ayahnya yang justru sebaliknya selalu dihujat dan dicaci oleh Nana saat kepulangannya. Nana selalu mengejek dan menertwakan kepolosan Maryam menganggap ayahnya.
Nana selalu mengatakan pada Maryam untuk tidak mempercayai cerita bohong ayahnya, segalanya adalah pemutar balikan fakta. Bila tidak, lalu mengapa Maryam, salah satu putri Jalil harus hidup menderita dalam kekurangan dan kesederhanaan sedangkan 10 saudara lainnya hidup di bawah atap yang nyaman dan aman. Bahkan proses melahirkan Maryam pun tidak diperdulikan oleh Jalil. Namun dibalik itu semua, sikap Nana akan berubah saat berhadapan langsung dengan Jalil. Ia akan menjadi pendiam dan tampak pemalu. Ia akan berusaha sebaik mungkin menjaga sikap, bahkan ia berdandan lama dan rapi untuk bertemu Jalil. Mungkin inilah yang disebut rasa suka itu. Sebenci apapun kita pada dia yang pernah memasuki hati kita, tapi tetap di hadapannya kita kan takluk karena semua hal yang kita benci seolah lenyap untuk sesaat. Sikap Nana pada Jalil, mungkin karena ia merasa diperlakukan secara tidak adil. Dia yang menjadi korban, dia yang yang dipersalahkan, dan dia yang tersingkirkan.
Mariam kecil tidak pernah mendengarkan kata-kata Nana. Ia hanya merasa mungkin benar ibunya menderita namun mengapa ibunya tidak membiarkan saja ia bahagia dengn Jalil. Benar, Nana hanya tidak ingin ia bahgia, jahatnya ia menginginkan maryam untuk merasakan penderitaan yang sama. Sebuah pemikiran yang nantinya akan disesali oleh maryam.
Mariam ingin selalu bersama dengan Jalil bahkan ia meminta Jalil untuk membawanya ke Herat. Sebuah keinginan yang tidak mungkin dikabulkan oleh Jalil karena hingga saat ini keluarganya masih tidak bisa menerima Nana dan Maryam. Hingga suatu saat Maryam berusia 15 ia meminta hadiah ulang tahun pada Jalil untuk membawanya menonton di bioskop milik Jalil. Dan dengan perasaan berat Jalil berbohong. Mariam yang polos tidak mengerti alasan penolakkan Jalil. Dengan tekad yang nekad, dia pergi menuju Herat, sebuah kota yang selama ini hanya dia dengar dari cerita indah ayahnya.
Mariam kagum melihat kota tempat ayahnya tinggal. Ia berfikir bahwa selama ini Nansa hanya berbohong saja. Di sini, di kota ini, tidak ada yang menghinanya sebagai seorang harami. Itu semua hanya akal-akalan nana yang tidak mengingkan mariam hidup bahagia. Mariam tidak menemukan kesulitan untuk menemukan alamat Jalil, seseorang yang terhormat di kota Herat. Dengan perasaan senang dan penuh harap, Maryam memencet bel pagar besar rumah mewah Jalil. Namun sayang kehadirannya di sana tidak diharapkan. Sampai malam hari Jalil tidak juga mau menemuinya. Mariam terpaksa menunggu di depan pagar dan tertidur. Pagi harinya petugas di rumah Jalil memaksanya untuk pulang. Dengan tangisan kecewa, ia melihat sepasang mata yang selama ini ia kenal menatapnya dari balik jendela.  Di saat itu mariam sadar, bahwa nana bukanlah pembohong. Nana benar, maryam tidak pernah diinginkan oleh Jalil.
Saat pulang ke rumah, hati Mariam kembali diselimuti oleh kepedihan, Nana, ibunya yang selama ini ia anggap berbohong telah meninggal dunia, menggantungkan dirinya sendiri.
...........................
Sepeninggal nana, Jalil membwa Mariam ke rumahnya. Di sana ia melihat betapa megah dan mewahnya rumah sang ayah. Ia juga bertemu dengan ibu-ibu tirinya beserta saudara-saudarnya. Seharusnya ia bahagia, namun ternyata yang dikatakan oleh Nana benar. Di sini bukanlah tempatnya. Nana benar, bahwa tidak ada seorang pun ynag ia miliki kecuali Nana. Dan nana kini telah pergi.
Keluarga besar Jalil tidak bisa menerima maryam untuk tinggal lebih lama dengan mereka karena ia adalah sebuah aib. Sebuah benalu. Dengan jahatnya, mereka merencanakan pernikahan maryam dengan seorang duda berumur 40 tahun.
Mariam yang baru berusia 15 tahun menolak rencana tersebut. Ia menangis meminta ayahnya untuk membela. Namun jalil yang dikelilingi istri-istrinya tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan perasaan terluka Mariam tidak kuasa menahan airmatanya, hatinya juga lebih pilu saat tahu bahwa kedua saudarinya yang seusia dengannya bahkan saat ini berniat untuk melanjutkan kuliah.
Hari pernikahan pun tiba. Dengan menahan tangis, maryam mengucapkan janji ikrar pernikahan. Di saat itu pula ia baru melihat suaminya, Rasheed seorang pria berumur 40 tahun, bertbuh gempal, dengan lemak di beberapa bagian wajahnya.
Di hari itu pula mereka berdua pergi menuju rumah Rasheed yang berada di kabul. Dengan hati yang terluka parah, mariam tidak mau berbicara dengan Jalil. Ia hanya ingin segera pergi. Pergi dari seseorang yang selama ini sangat ia cintai.
Di kabul, mariam mendaptkan dirinya sebagai seorang yang asing. Tak ada yang ia kenal, bahkan ia sendiri tak mengenal suaminya. Rasheed memperlakukannya dengan baik, ia tidak apa-apa, ia memberikan waktu untuk mariam bahkan ia menymbutnya dengan sebuah buket bunga putih yang ia letakkan di jendela kamar maryam. Keduanya tidur di ruang terpisah karena rasheed lebih menyukai tidur sendiri. Mariam yang polos masih merasa takut untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah lewat beberapa hari Rasheed memintanya untuk menyadari dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Maka dengan perasaan yang masih berat, akhirnya maryam mencoba.
Mariam mulai keluar dari rumah dan berbelanja. Ia pun bertemu dengan tetangga-tetangga sekitar. Ia memasak, menyiapkan makan malam untuk rasheed. Dan pada malam hari Rasheed pun mendatangi kamarnya. Awalnya maryam merasa ragu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena kewajibannya sebagai seorang istri. Butuh waktu lama untuk maryam hingga bisa beradaptasi dengan hidup dan peran barunya.
Suatu ketika maryam mendatangi kamar Rasheed di siang hari. Dia hendak membereskan kamar tersebut. Tidak sengaja ia menemukan sebuah majalah dewasa bergambar wanita-wanita tanpa busana. Ada percik amarah dalam dadanya setelah mengetahui prilaku suaminya. Suami yang berkata beberapa hari yang lalu padanya bahwa jika mereka hendak berpergian, maryan harus mengenakan burqa, kerudung panjang bercadar. Tapi apa yang dilihatnya kini, ia merasa marah.
Mariam berusaha menenangkan pikirannya. Dan ketika ia sudah mulai bisa berfikir jernih lagi, sebuah pikiran terlintas. Mungkin wajar bagi rasheed seorang duda yang sudah bertahun-tahun lamanya kesepian dan tidak terpenuhi kebutuhan biologisnya untuk melakukan hal ini. Ini manusiawi. Sudah berapa lama rasheed merasa kesepian. Maryam pun menemukan sebuah foto anak laki-laki Rasheed yang telah meninggal tenggelam di danau. Maryam merasa seakan-akan ia mampu merasakan reka ulang kejadian yang rasheed rasakan. Bagaimana ia merasa pedih kehilangan. Lalu perhatian maryam beralih pada sebuah foto berisi sebuah keluarga, rasheed dan istrinya yang tampak mesra namun canggung. Entah mengapa maryam tidak bisa melepaskan pandanganya dari foto tersebut. Ia sadar bahwa ada sulutan api dalam dadanya. Ia tidak menyukai foto itu. Maryam merasakan bahwa hubungan mereka akan menjadi baik.
Waktu pun berlalu. Maryam dan rasheed mendapatkan sebuah berita bahagia. Maryam hamil. Rasheed begitu riang. Ia menyenandunglan sebuah lalu. Ia begitu menjadi perhatian pada Maryam dan juga saat bersikeras bahwa anak mereka nantinya adalah laki-laki, yang tidak sedikit membebani maryam.
Saking senangnya rasheed sudah mulai berbelanja pakaian bayi laki-laki dan membuatkan sebuah ranjang kecil. Hari-harinya tampak cerah. Begitu pula dengan maryam yang merasa terhormat akan menjadi seorang ibu. Ia merasakan kehidupan baru di dalam perutnya.
Namun rupanya kabut masih setia menemani jendela kehidupan maryam. Ia mengalami keguguran  saat mandi di pemandian umum. Dan itu berlangsung hingga 8-9 kali dalam hidupnya. Ia tidak lagi hamil. Sikap rasheed lambat laun semakin dingin dan seakan tak peduli dengan keberadaan maryam. Baginya maryam adalah benalu dan hanya dapat memberikan makanan sampah pada rasheed. Apapun yang dilakukan maryam adalah salah dan akan selalu dicarikan kesalahan agar dapat berpuas hati menghinya, bahkan memukulnya. Mariam semakin hari semakin ketakutan. Ia selalu khawatir dengan kondisi hati rasheed yang gampang berubah-ubah. Ia tak mengenali suaminya sendiri. Suami yang hanya bisa memarahi dan mencari kesalahan, serta mendatanginya hanya untuk menagih kewajiban. Hari-hari terasa gelap di hati maryam.

Bag 2

Malam itu ketika kudeta Uni Soviet atas Afganistan terjadi, gadis Tajik berambut pirang itu lahir. Namanya Laila, sebuah kecantikan malam. Anak bungsu dari 3 bersaudara yang keduanya adalah laki-laki. Kedua abangnya yang pergi berjihad melawan komunis uni soviet. Kedua abangnya yang sangat disayangi dan dibanggakan oleh mommy, hingga membuat laila sering merasa terabaikan.
Ayah laila adalah seorang mantan guru SMA yang sempat lulus dari Universitas Kabul. Tubuhnya ramping seperti wanita. Hobinya adalah belajar dan membaca buku. Laila sangat menyayangi Babi yang selalu juga menyayanginya dan menganggap berarti keberadaannya. Seorang tipe ayah yang sangat baik, namun sering dikeluhkan oleh mommy karena ketidak ahliannya dalam mengurusi rumah. Bila laila membutuhkan bantuan dalam belajar, kesulitan mengartikan sebuah kata dalam buku, maka Hakim, Babinya, adalah orang yang tepat. Namun bila ia kesulitan untuk membuka tutup kaleng, maka ia akan mendatangi mommy.
Mommy adalah seoang ibu periang yang sangat suka berlebihan dalam mengekspresikan emosinya. Namun setelah kepergian kedua abang laila untuk berjihad, mommy mulai berubah. Ia marah atas sikap Babi yang tidak mau melarang kedua puteranya. Dan selama bebrapa waktu terakhir, mommy mempunyai 2 macam hari; hari baik dan hari buruk.
Di hari baik, mommy akan keluar kamar dengan tersenyum manis, memasakkan makan malam untuk laila dan babi. Namun di hari buruknya, mami bahkan tidak mau beranjak dari kamarnya kecuali untuk melaksanakan sholat.
Laila mempunyai seorang teman bermain berusia 2 tahun lebih tua darinya, Toriq yang kehilangan satu kakinya karena ........
Toriq adalah seorang pastun yang tinggal dengan ayahnya yang lembut dan memiliki lemah jantung serta ibunya yang baik hati, yang selalu memakai wig ungu. Keluarga toriq selalu menerima baik kedatangan laila. Di keluarga tersebut laila merasakan kehangatan yang beberapa waktu terakhir seperti lenyap.
Toriq dan laila sering menghabiskan waktu bersama. Bagi laila, toriq sudah dianggap sebagai penjaganya dari anak-anak nakal yang sering mengganggunya. Hubungan mereka sangatlah akrab. Bahkan ketika toriq beserta keluarganya harus pergi mengunjungi saudara mereka untuk beberapa minggu, Laila merasa sangat kesepian. Ia merindukan Toriq. Baginya menunggu adalah sebuah hal yang sangat tidak menyenangkan.
Hubungan keduanya terus tumbuh dari waktu ke waktu hingga suatu saat mereka menonton sebuah film di bioskop. Film yang diputarkan adalah sebuah film rusia yang dialih suarakan ke dalam bahasa afganistan. Keduanya merasa canggung saat melihat adegan ‘kissing’ 2 pemain utama. Di sanalah mulai tumbuh sebuah rasa berbeda dari apa yang selama ini hidup dalam hubungan persahabatan mereka.
Bagi Laila, tinggal di rumah tidaklah menyenangkan dengan sikap mami yang sama sekali seperti tidak mengabaikan kehadirannya. Hanya babi dan toriq yang ia miliki. Juga 2 orang teman sekolahnya Giti dan Hasna. Kedua temannya yang sering bermain dan menemaninya. Dan juga yang memahami perasaannya.
Pada saat Uni Soviet menarik mundur pasukannya dari Afganistan, Mommy  bangkit dari tempat tidur yang selama ini selalu menemaninya. Ia meminta babi untuk mengundang para tetangga, mereka akan mengadakan pesta syukuran.
Para tetangga menyambut bahagia perayaan pesta. Di mana-mana terdengar obrolan terkait kemenangan mujahid. Para wanita sibuk menyiapkan hidangan, sedangkan para pria bermain catur atau sekedar mengobrol sambil meminum teh. Para gadis, laila, Giti dan Hasna sibuk di dapur.
Toriq yang sedang tidak memiliki pekerjaan dengan jahil memasuki dapur. Ia mencomoti hidangan yang ada. Para gadis pun marah melihat prilaku toriq. Laila hanya bisa melirik tak berbicara. Baru kemarin mommy memperingatkanny tentang hubungannya dengan toriq yang berkemungkinan besar menimbulkan gosip-gosip yang tidak enak didengar karena hubungan mereka kini bukanlah sekedar hubungan pertemanan antar anak kecil saja. Dan Laila menyadari hal itu.
Di tengah pesta, terjadi perkelahian antar seorang tajik dan pastun. Semua pria lainnya mencoba untuk melerai, namun sayangnya pertikaian bertambah menjadi lebih rumit. Semakin banyak tangan-tangan mengepal ingin meninju. Dan di tengah-tengah itu semua, laila melihat kaki palsu oriq tergeletak di tanah.
Di tengah pesta, toriq memberikan isyarat kepada laila untuk pergi mengikutinya menuju tempat mereka biasa bertemu. Di sana mereka memperbincangkan isu-isu yang sedang terjadi. Di sana juga toriq mempertunjukan kebiasaan barunya, merokok. Laila tidak menyukai hal tersebut. Dia bertanya untuk alasan apa toriq melakukan semua hal yang bukan dirinya, bermain dengan geng yang tidak jelas, merokok dsb. Toriq memberikan jawabannya yang membuat laila cemburu, bahwa hal-hal tersebut adalah yang disukai para gadis, menjadi seksi. Melihat laila cemburu, toriq mengucapkan kata-kata yang membuat laila terdiam. Bahwa selama ini yang ada di pikirnnya hanyalah laila. Lalu toriq pun memegang kedua tangan laila dan menciumnya.
Hubungan keduanya terus berlanjut. Sudah beberapa kali mereka berciuman. Begitu juga dengan kondisi afganistan yang terus berkembang. Walaupun setelah uni soviet pergi namun antek-anteknya di bawah Najibullah masih bertahan menguasai afganistan. Namun akhirnya setelah uni soviet dinyatakan kalah dalam peperangan, semua antek komunis itu ditarik mundur. Sayangnya ketenangan dan keamanan yang dirasakan tak berlangsung lama. Kemenangan yang diraih para mujahidin kini menjadi masalah baru. Siapa yang akan memimpin macam-macam suku yang ada? Siapakah yang berhak? Semua kelompok mengemukakan bahwa kelompoknya lah yang pantas. Semuanya tidak ada yang mau mengalah. Maka pecahlah perang saudara.
Keadaan di kabul menjadi bertambah parah. Roket meluncur dengan bebas di mana-mana. Perempuan tidak aman untuk pergi keluar sendirian. Maka jadilah toriq menjaga laila ke mana-mana. Giti, sahabat laila meninggal terkena roket. Banyak dari keluarga kabul memutuskan pindah dari afganistan ke negara-negara tertangga. Babi yang merasa khawatir meminta  mommy untuk pindah. Namun mami yang merasa harus tetap tinggal di tanah yng kdua putranya berjuang hingga mati. Ia tidak bisa begitu saja pergi.
Suatu hari mami merasa sakit, dan di tengah kekecaman Babi mengantar mami ke dokter. Laila yang sendiri menerima kedatangan toriq yang membawa berita bahwa ia sekeluarga akan pergi mengungsi ke pakistan. Laila tampak sangat terpukul. Ia tidak bisa menerima semua itu. Di tengan malam itu, toriq mencoba menenangkannya. Ia memeluk laila dan menciumnya. Pada malam itu sebuah dosa telah mereka lakukan.
Laila masih merasa malu dan bersalah atas apa yang telah ia lakukan. Hari ini dia dan keluarganya juga akan mengungsi. Babi berhasil membujuk mami. Mereka pun mengemasi barang-barang. Di tengah-tengah kesibukan itu, sebuah roket datng bertamu di atas rumah mereka.



Bag 3
Laila berhasil selamat dari roket yang menghatam rumahnya. Ia ditemukan oleh Rasheed, tetangganya, di antara puing-puing bangunan. Beberapa hari pada awalnya, laila tidak bisa mengingat apa yang terjadi dan ia juga mengalami gangguan pada telinganya. Rasheed menyuruh maryam, istrinya, untuk merawat laila dengan baik. Rasheed sangat memperhatikan gadis rambut pirang brumur 14 tahun tersebut.
Setelah beberapa lam akhirnya laila mampu mengingat apa yang terjadi. Ia meraung-raung dan tidak mau keluar kamar. Akhirnya dengan bujukan keras dari sepasang suami-istri yang telah menolongnya, laila mau sedikit demi sedikit berangsur pulih.
Suatu malam, seorang laki-laki mencari laila. Dia membawa kabar tentang toriq yang mengalami masa kritis di daerah sekitar pakistan. Laila merasa limbung mendengar berita tersebut.
Rasheed mendatangi kamar maryam. Ia meminta maryam untuk membantunya membujuk laila untuk menikah dengan rasheed. Hal ini tentu saja membuat Maryam tersentak. Ia sangat tidak setuju. Timbul kecemburuan dalam hatinya. Ia menolak ide rasheed. Namun rasheed sama sekali tidak mau menyerah. Ia mengemukakan berbagai alasan. Ia berpendapat bahwa adalah hal yang tidak baik dan benar membiarkan seorang gadis tinggal sendirian tanpa siapa apapun. Sangat berbahaya.
Walau dengan terpaksa dan menyesal karena telah menolong gadis tersebut, Maryam akhirnya setuju. Ia menjumpai laila dan menyampaikan  maksud rasheed. Tanpa terduga Laila menyetujuinya dan meminta untuk segera diberlangsungkannya pernikahan.
Rasheed merasa senang mendengar kabar tersebut, maka ia dengan segera menyiapkan segala kebutuhan pernikahan. Karena membutuhkan banyak dana, rasheed bahkan rela menjual cincin pernikahan maryam yang pada awalnya sempat ditentang oleh laila.
Laila menyetujui pernikahan ini ternyata karena ia memiliki sebuah rencana licik. Di badannya telah hadir sebuah benih hasil hubungan dosa yang ia lakukan dengan toriq beberapa waktu yang lalu. Laila telah berfikir panjang untuk sampai keputusannya ini. Ia menimbang-nimbang dan memprediksikan beberapa piihan dan hasilnya yang akan ia terima di masa mendatang. Dan inilah pilihan yang terbaik untuk dirinya dan juga bayinya. Dan untuk menutupi kebohongannya, menutupi kehamilannya yang haram ini, ia harus melakukan pernikahan secepatnya.
Sebenarnya laila merasa bersalah kepada maryam karena telah melibatkannya bahkan menyakitinya dalam rencana liciknya. Ia berusaha meminta maaf pada maryam yang selalu bersikap dingin terhadapnya. Ia tahu ia salah tapi ia tidak mau selalu menjadi buruk hubungan di antara mereka.
Maryam sebenarnya tidak menginginkan suasana seperti ini, namun ia sadar hatinya tidak bisa dibohongi. Ia tersakiti dengan pernikahan ini. Ia yang pertama kali hadir namun ia kini yang tersingkirkan. Perhatian rasheed sudah tak ada lagi untuknya. Sebenarnya maryam tidak terlalu mempermasalahkan masalah ini. Ia justru sebenarnya selalu merasa takut berada atau berdekatan dengan rasheed yang berkemungkinan besar untuk menyakitinya sewaktu-waktu. Ia sebenarnya merasa lega karena kini ia tak harus berhubungan atau berhadapan langsung dengan rasheed. Namun tetap saja hatinya sakit.
Maryam dan laila membagi tugas mereka membenahi rumah. Maryam yang memasak. Laila yang mencuci dan menjemur. Pernah terjadi pertengkaran di antara mereka dan menyebabkan laila menangis di kamar nya dan ketahuan oleh rasheed yang kemudian mendatangi maryam untuk menghajarnya. Laila berusaha untuk menahan rasheed dan membela maryam, akhirnya rasheed mengurungkan niatnya untuk menghajarnya, ia hanya mengancam maryam.
Hari persalinan laila pun tiba. Ia melahirkan seorang bayi perempuan cantik yang diberi nama Aziza. Aziza memiliki mata yang sama dengan ayah kandungnya, toriq. Rasheed yang selama ini selalu mendambakan seorang anak laki-laki sama sekali tidak merasa senang dengan kehadiran aziza. Baginya, bayi mungil itu hanya penambah masalah dan beban. Penyebab bau di kamarnya dan pengganggu saat ia terlelap tidur. Dikarenakan sejaka awal rasheed memperkirakan bahwa bayinya adalah laki-laki, maka semua pakaian bayi yang tersedia adalah pakaian anak laki-laki.
Maryam dengan hati besarnya memberikan pakaian-pakaian bayi perempuan yang dulu dia rajut untuk calon bayinya pada laila untuk aziza pakai. Perasaan dingin maryam pada laila perlahan berkurang dimulai pada saat maryam merasa terharu saat laila membelanya di depan rasheed. Inilah pertama kalinya ia merasa dibela oleh orang lain. Maryam pun mulai jatuh cinta pada aziza kecil yang sering meminta perhatian darinya. Dia merasa dibutuhkan dan dihargai. Dan mulailah hubungan antar istri tua dan muda itu menjadi baik. Di tengah malam, mereka berdua sengaja duduk di luar menikmati secangkir tah chai di bawah kilauan bintang.
Rasheed tidak pernah sekalipun memperdulikan atau memanjakan aziza kecil. Ia seperti tidak mencintai bayi mungil itu. Sedangkan laila sangat mencintainya, seprti ia melihat wajah ayahnya, toriq.
Laila sangat bahagia berada dekat dengan putrinya, walaupun ia tahu dan sadar bahwa terkadang rasheed sering menatap aziza dengan pandangan yang tidak baik. Ia juga suka menyindir laila atau mengungki-ungkit hubungannya dengan toriq. Pernah ia menatap maryam ingin diyakinkan, namun maryam tak mampu memberi keyakinan.
Maryam kini sudah terbiasa dengan hidupnya yang mulai bersinar. Ia merasa nyaman atas hubungan pertemanannya dengan laila. Inilah pertama kalinya ia merasakan sebuah hubunga tanpa pamrih dalam hidupnya.
Kondisi kabul semakin waktu semakin bertambah parah. Dengan pecahnya kelompok mujahid, peperangan antar saudara tidak bisa dihindarkan. Setiap harinya puluhan roket meluncur ke rumah-rumah warga sipil yang tidak bersalah. Semakin parah semakin liar.
Di suatu malam, laila menyampaikan rencananya pada maryam, bahwa ia akan kabur dengan aziza dari rumah mereka. Ia mengajak maryam untuk ikut serta. Maryam memikirkan rencana laila. Mungkin inilah saatnya, ia dapat menikmati hari-hari bahagia. Tanpa ada sebutan harami padanya. Ia dapat melihat bunga-bunga yang bermekaran
Pada pukul satu siang mereka bertiga pergi menuju terminal. Untuk bisa berpergian jauh, seorang wanita harus didampingi oleh mahromya, maka laila dan maryam mencari-cari sekiranya ada yang mereka kenal atau setidaknya dapat membantu mereka. Akhirnya mereka meminta bantuan kepada seorang pria bernama wakil. Dia setuju membantu mereka. Hingga pada saat mreka hendak memasuki bus, opsir-opsir penjaga menahan mereka. Merka bertiga tidak diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Rupanya wakil telah mengadukan tindakan 2 wanita dan 1 putri itu pada pihak yang berwajib. Maka mereka pun diantar pulang kembali ke rumah rasheed.
Setiba mereka di rumah, rasheed sudah menanti mereka. Dengan segera ia menyuruh laila dan aziza untuk naik ke lantai atas dan menahan maryam bersamanya. Malam itu maryam akan mendapatkan hukuman dari rasheed yang berasumsi bahwa rencana melarikan diri tu adalah ide maryam. Laila yang menyadari hal itu segera berusaha menghentikan rasheed. Namun rasheed tidak peduli, ia memaksa maryam masuk kamar bahkan dengan menendangnya sehingga aziza kecil terlempar ke atas kasur. Laila dan aziza dikurung di dalam kamar. Rasheed menutup semua akses ke luar dengan menempelkan triplek/ balok ke setiap jendela dan  pintu ruangan kamar. Dari kamarnya laila hanya bisa mendengar dengan satu telinganya apa saja yang dilakukan oleh rasheed terhadap maryam. Ia mendengan serua gebukan, hajaran. Ia juga melihat maryam, dari jendela yang menghadap ke luar, diseret paksa oleh rasheed ke gedung perkas dan mengurungnya. Laila merasa sangat bersalah.
Rasheed sama sekali tidak memperdulikan kondisi keluarganya, ia bahkan tidak sudi memberikan segelas air. Hingga 1 hari 2 malam, barulah ia membuka kunci kamar dan membebaskan semuanya sembari mengancam untuk tidak mengulangi kembali.
....
September 1996
Taliban datang menghapus semua jejak pecahan-pecahan ‘mujahid’ afganistan. Merka adalah anggota-anggota keluarga pashtun yang melarikan diri ke pakistan saat afganistan masih berada di bawah kendali uni soviet. Taliban dipimpin oleh seorang misterius yang disebut amirul mukminin. Rasheed menyambut gembira kedatnagn taliban. Ia berasumsi bahwa sebaiknya memang kabul diperintah oleh mereka yang mau bersatu. Ya taliban memang berastu dan mereka sangat solid.
Taliban memegang teguh hukum-hukum islam. Namun sayangnya mereka terlalu ekstrem bahkan bisa dibilng agak berbahaya. Mereka melarang segala bentuk kemajuan di derah afgan. Tak ada sekolah, televisi, bahkan hiburan. Semua bentuk duniawi dibantai. Mereka mewajibkan setiap wanita berpergian dgn mahromnya. Mereka termasuk golngan islam radikal yang tidak segan-segan menghukum siapa saja yg bersalah.
Banyak rakyat yang kehilangan pekerjaan, bangkrut dan menderita kemiskinan ditambah dengan mengeringnya sumber-sumber mata air. Kehidupan rakyat sungguh berada di ambang.  Taliban mnutp segala bentuk sekolah. Mereka menutup bioskod dan banyak bangunan lainnya. Mereka memberlakukan jam maam dan juga membuat qonun baru negara afganistan.
Rasheed tidak terlalu merasa terganggu dengan kehadiran taliban. Baginya cukup untuk menumbuhkan janggut dan menjaga sholat awal waktu berjamaah maka ia akan menjadi aman. Suatu malam laila merasakan kembali apa yang ia rasakan saat akan memiliki aziza. Ya, dia sedang hamil anak rasheed. Dalam benaknya laila merasa takut tak bisa mencintai benih yang ada di perutnya saat ini. Dan ia pun berniat untuk membunuh makhluk tak berdosa tersebut. Namun akhirnya laila tidak sanggup melakukannya. Ia takut tak bisa mencintai anak ini seperti ia mencintai aziza.
Proses persalinan anak kedua ini mendaptkan banyak cobaan. Di masa itu seorang wanita hanya diperbolehkan berobat ke rumah sakit khusus waita yang hanya berjumlah 1, jdilah laila yang sudah di ujung persalinannya harus mengantre terlebih dahulu. Sebuah perjuangan yang harus dilalui oleh seorang ibu yang melahirkan dengan cara caesar yang amsih sangat sederhana, yang dapat membuat maryam merasa begitu hormat dan memuliyakan harkat seorang ibu. Bayi itu dinamai zalmai, sorang anak laki-laki yang banyak mewarisi ayahnya, rasheed.
Rasheed yang mendambakan anak laki-laki merasa sangat senang dan mempersiapkan banyak hal untuk pahlawan kecilnya. Zalmai adalah anak yang baik dan sangat menyayangi ibunya. Namun bila saat bersama resheed maka ia berubah menjadi anak nakal, manja dan pemarah.
Aziza tumbuh menjadi gadis bermata indah dengan warisan rambut seperti ibunya. Ia tumbuh menjadi kakak yang pengertian pada adiknya. Di saat zalmai mengamuk, maka azizah lah yang mampu menenangkannya. Ia menjadi lebih dewasa dibandingkan anak seumurannya.
Sudah dua tahun taliban datang dan kemarau tak juga mau berlalu. Sungai kabul telah mengering. Zalmai sudah berusia 2 tahun. Azizah tidak pernah mengeluh atau protes dengan perlakuan rasheed padanya bahkan ia sama sekali pernah merasa cemburu pada zalmai. Maryam dengan bekal ilmu yang dulu ia dapatka dari Mullah, guru sekaligus temannya saat ia amsih tinggal di kolba bersama nan, maryam mengajarkan aziza sholat dan menghafal surat-srat pendek. Bagi maryam, inilah satu-satunya harta yang ia miliki.
Suatu hari rasheed membeli sebuah tv bekas untuk zalmai. Meryam dan laila mengusulkan untuk menggali lobang tempat persembunyian tv kalau kalau taliban datang memeriksa rumah mereka. Dan ada suatu hari pernah azizalah yang harus bersembunyi di dalam lubang dengan dilampisi sebelumnya dengan plastik.
Rasheed suatu ketika mengemukakan rencananya untuk menjadikan aziza pengamen di perempatan masjid dekat lingkungan mereka dan tentu saja laila menentang habis-habisan rencana tersebut bahkan ia dengan berani menghajar rasheed.
Pada akhir musim panas, toko sepatu rasheed hangus terbakar. Kondisi ekonomi keluarga mereka berada dalam ambang kehancuran. Mereka menjual segala macam barang berharga yang mereka punya. Rasheed mencoba untuk bekerja di beberapa tempat yang akhirnya ia dipecat keluar karena kinerja dan personaliti yang kurang bagus. Untuk mempertahankan hidup, rasheed mencoba berbagai cara, ia bahkan mencuri sisa makanan dr temapat ia bekerja untuk zalmai. Tubuh aziza kini dapat terlihat jelas lekuka tulangnya. Maryam yang melihat ambang kematian di depan matanya tidak bisa tinggal diam.
Maryam dan rasheed pergi ke sebuah hotel untuk bisa menelpon ke kediaman jalil, ayah maryam. Namun sayang, Jalil telah meninggal berthaun-tahun yang lalu yang membuat maryam terkesiap dan menahan kesedihan. Tahun itu adalah tahun dimana rashedd mengunjunginya ke kabul, tapi maryam sama sekali tak mau menjumpainya bahkan erobek surat yang ditujukan padanya. Betapa ia merasa menyesal. Saat itu ayahnya sedang berusaha mengucapkan selamat tinggal. Maryam teringat jalil, semua ceritanya, suaranya. Ia merindukannya.
Untuk menghemat biaya, akhirnya diputuskan bahwa aziza akan dikirim ke sebuah panti asuhan yatim untuk tinggal di sana. Mereka sepakat berbohong dengan mengatakan bahwa ayah aziza telah wafat karena perang. Aziza diterima dengan baik oleh zaman, si pemilik panti, yang sangat menyayangi anak-anak. Di saat terkhir, aziza meraung-raung tidak mau ditinggalkan sendiri oleh ibunya. Sedangkan laila yang memakai burqa tak sanggup menahan tangisnya.
Setiap hari, laila memaksa rasheed untuk menemaninya mengunjuangi aziza ke panti asuhan. Setiap kali laila dan aziza bertemu, aziza akan menceritakan apa-apa yang ia lalui dan ilmu yang ia pelajari dari zaman. Rasheed tidak bisa selalu menuruti permintaan laila sehingga seringkali laila nekat pergi sendiri walau ditahan, dihukum oleh pihak aparat. Namun semua perih itu terbayar saat akhirnya ia dapat bertemu dengan aziza dan menghabiskan waktu hingga berjam-jam bersamanya.
Zalmai kecil yang sangat memuja ayahnya tidak menyukai kehadiran laki-laki pincang itu, dia yang datang menemui ibunya, toriq yang masih hidup. Ternyata selama ini rasheed berbohong tentang keadaan sekarat yang dialami toriq. Ia membayar seseorang untuk menipu laila. Dan inilah toriq yang sudah dewasa kembali datang untuk menemui laila.
Toriq menceritakan perjalanan hidupnya. Ayahnya meninggal ketika tak sanggup lagi menahan lemah jantungnya. Keadaan ekonomi yang buruk memaksa toriq untuk melakukan sebuah pekerjaan nista yaitu menjadi kurir sabu-sabu, dan malangnya ia tertangkap dan dijebloska selama kurang lebih 5 tahun. Ibunya yang telah menua beberapa kali datang untuk mengunjunginya namun tak pernah sekalipun mereka bertemu. Dan akhirnya ibunya pun pergi menyusul ayah toriq.
Di penjara toriq bertemu dengan Salim seorang narapidana kawakan yang tahu betul seluk beluk penjara dan berprilaku seperti ayah kepada toriq. Dari salim, toriq mengetahui kabar ibunya, dan dari salim juga toriq akhirnya mendapatkan pekerjaan serta tempat tinggal saat keluar dari penjara. Salim memberi arahan pada toriq untuk mendatangi Sayed saudara salim atas rekomendasinya. Di sana ia diperlakukan dengan baik dan diberi ujian menjadi sorang pelayan. Setelah melihat kinerja toriq yang baik akhirnya sayed menerima toriq berkerja dan memberikannya tempat tinggal.
Laila mendengarkan cerita toriq dengan seksama. Ia dapat membayangkan kehidupan yang toriq lalui. Jauh di hati laila ia senang melihat toriq masih hidup namun juga menyesal karena telah mengkhianatinya. Ia yang telah bersuami dan memiliki anak.
Selama beberapa hari toriq selalu datang mengunjungi laila di saat rasheed sedang bekerja. Zalmai yang melihat kedatangan toriq merasa tidak senang dan selalu mengadu pada ayahnya. Hal ini menimbulkan perang setiap malam di rumah mereka. Rasheed menuduh laila telah mengkhianatinya dan laila membalas dengan mengatakan bahwa rasheed selama ini telah membohonginya.
Di suatu pertemuan laila menceritakan pada toriq mengenai aziza. Toriq saat senang mendengarnya dan rindu ingin menjumpainya.
Suatu malam setelah aduan zalmai pada rasheed, sebuah perang besar terjadi. Rasheed dengan kejamnya memukuli laila dan dia mngatakan bahwa ia sudah tahu selama ini bahwa aziza adalah seorang harami. Bukannya menahan diri, laila justru membalas setiap perkataan rasheed. Hingga akhirnya rasheed kalap dan menghajarnya habis-habisan. Zalmai terlebih dahulu telah dikurung oleh rasheed di kamarnya agar tidak melihat apa yang akan terjadi. Maryam yang melihat ambang kematian di depannya tidak bisa berdiam diri saja. Ia berusaha melerai dan melepaskan cengkraman rasheed. Dengan tidak sadar ia mencakar dalam wajah rasheed hingga berdarah-darah. Rasheed yang merasa keaskitan segera mengalihkan perhatiannya pada maryam dan mulai menghajarinya. Laila yang melepaskan diri segera membanting sebuah gelas ke kepala rasheed yang kini kembali beralih pada laila dan mulai mencekiknya keris. Maryam yang melihat hal itu sadar lambat tapi pasti sebelum rasheed mengeluarkan pistolnya untuk membunuh laila atau mungkin bahkan membunuhnya juga, maryam harus menemukan cara untuk menghentikannya. Akhirnya maryam mengambil sekop dan memukulkan dengan sepenuh tenaga dan memanggil rasheed. Ayunan sekop itu membentur keras kening rasheed yang kemudian tak lagi sadarkan diri. Maryam yang setelah itu seperti sadar hanya bisa terdiam. Ia takut namun hatinya tenang.
Setelah merasa tenang akhirnya maryam memerintahkan pada maryam bahwa ereka harus memindahkan mayat rasheed sebelum zalmai melihatnya. Laila yang tertegun hanya bisa mengiyakan.
Maryam memita 1 malam untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Laila yang merasa takut dngan panik mengetakan bahwa mereka harus segera pergi. Maryam berusaha menenangkan laila dengan merebahkan kepala laila di atas pahanya. Dia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia menggambarkan kehidupan mereka ke depannya bahwa semuanya akan indah. Mereka, maryam, laila, toriq dan anak-anak akan pergi ke tempat jauh. Mereka akan hidup bahagia bersama. Setelah laila tenang, maryam menyruhnya untuk menemui zalmai.
Maryam merasa berdosa pada zalmai yang harus kehilangan babanya.
Laila mendapati zalmai yang belum tertidu karena menunggu babanya. Ia tidak bisa tidur tanpa dibacakan doa babaloo oleh babanya. Zalmai bertanya tentang keberadaan rasheed. Dan dengan berat laila berkata bahwa babanya sedang pergi jauh dan tak diketahui kapan akan kembali. Sebuah kebohongan pertama yang terucapa dan akan selalu terulang-ulang berkali-kali hingga nanti.
Keesokan harinya mariam telah memtuskan bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepada taliban. Laila yang mendengar hal itu tentu tidak setuju ia meraung memohon pada maryam untuk mereka pergi bersama. Namun maryam berpendapat bahwa bila semuanya pergi, maka taliban akan mengejar mereka. Dan dengan pertimbangan seorang ibu, ia meminta laila untuk memikirkan yang lainnya. Ia menyuruh laila untuk pergi bersama toriq dan zalmai dan membawa aziza. Ia merasa tidak bisa mengenyahkan rasa berdosanya bila melihat zalmai yang merindukan ayahnya.
................
Ketika maryam melihat penjara ini, ia merasa seperti melihat kolba tempat dulu ia tinggal bersama nana. Di penjara dengan reputasinya sebagai seorang pembunuh, maryam mendapatkan posisi yang terhormat di antara kalangan para narapidana wnita lainnya. Mereka menyebut maryam sangat berani.
Maryam, tentu saja ia merasa takut. Ada kekhawatiran yang menjalar dalam hatinya. Namun ia juga merasa bebas karena inilah pertama kalinya ia merasakan bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Ia di sini tidak untuk berakhir dalam kesendirian. Dia di sini untuk orang-orang yang ia cintai dan juga mencintainya. Ia merasa berarti.
Di penjara ini ia melihat bagaimana wanita seringkali diperlakukan rendah. Ia teringat ucapan nana bahwa seperti arah kompas angin yang selalu menunjukan arah utara, kamanapun telunjuk itu akan diacungkan untuk menuduh para wanita.
Hari pengadialn pun tiba. Maryam dengan teguhnya menolak semua bentuk keringanan atau tawaran seperti mendatangkan saksi, mendapatkan pengacara. Maryam mengaku tanpa ragu bahwa dia bersalah. Ketua hakim sidang mengatakan bahwa sebenaranya berata baginya menjatuhkan hukuman untuk maryam namun karena inilah peraturannya maka ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Waktu maryam di penjara hanya 10 hari lagi. Tidak ada seorang pun yang mengunjunginya dan ia pun meminta penjaga untuk tidak membiarkan seorang pun mengunjunginya. Maram seperti menikmati hari-hari terakhirnya di penjara. Ia melihat kehidupan di penjara dengan perasaan yang damai. Namun jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa sebenarnya ia takut.
Hari penghukuman pun datang dan maryam hanya bisa duduk di antas truk tentara yang mengantarnya dengan perasaan gamang. Salah seorang tentara menawarkan minum namuan ia dengan halus menolaknya. Tentara yang masih muda itu bertanya pada maryam apakah iya merasa takut, dan maryam menjawab iya.
Tentara itu kemudian mengatakan bahwa ia mengingat ayahnya lewat foto yang ia miliki. Ibunya mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang yang pemberani. Namun ketika komunis datang saat ia masih kecil, ayahnya itu menangis. Maka si tentara tersebut mengatakan bahwa wajar saja bila maryam takut. Itu sangat wajar. Maryam pun menitikkan air matanya.
Saat tiba di stadion tempat hukuman gantung akan berlangsung, mariam berusaha meneguhkan hatinya untuk tidak takut. Ia memantapkan dirinya untuk kuat. Sebenarnya ia khawatir bahwa nanti insting binatangnya kan muncul. Ribuan penonton menatap ke arah mariam yang berjalan menghampiri tiang gantungan. Dengan patuh ia menuruti perintah seorang talib yang diberikan untuknya.
....
Bag 4

Toriq membawa laila dan anak-anak tinggal bersama di hotel tempat ia bekerja. Di hari pertama mereka tiba, keduanya pun menikah dengan dihadiri Sayed, majikan toriq, yang membawa seorang mullah dan beberapa saksi. Keluarga kecil itu tinggal di sebuah kamar di luar lingkungan hotel. Di sana terdapat  2 ranjang cukup untuk mereka berempat.
Kehidupan yang mereka lalui di tempat baru itu sangatlah nyaman. Di mana-mana banyak pohon, makanan yang cukup dan hidup yang aman. Toriq dan aziza tampak sangat akrab, walaupun mereka baru saja dipertemukan namun keduanya berlaku seoan-olah sudah lama mengenal seperti kawan lama. Mereka layaknya pasangan yang melengkapi, melihat hubungan yg baik antara ayah dan anak itu laila merasa sangat bahagia. Beda halnya dengan hubungan toriq dan zalmai. Zalmai masih terus menanyakan kabar babanya dan hal ini membuat hati laila perih. Sampai kapan ia harus membohongi putra kecilnya ini.
Zalmai tidak pernah mau menerima uluran tangan atau berdekatan dengan toriq. Ia selalu mengatakan bahwa babanya akan datang dan memukuli toriq. Ia yakin bahwa babanya akan menang karena ia memiliki 2 kaki, sedangkan toriq pincang. Mendengar hal itu laila measa tak enak, namun toriq hanya tersenyum dan menatap sayang pada zalmai.
Keluarga kecil itu beramai-ramai melakukan tugas toriq di hotel yaitu membersihkan seluruh kamar-kamar hotel. Di akhir pekan toriq mengajak keluarganya untuk berjalan-berjalan melihat pakistan. Mendapatkan kehidupan seperti ini membuat laila merasa nyaman. Terkadang ia merindukan maryam. Aziza yang juga seringkali merindukan maryam melampiaskan kerinduannya melalui sholat yang dulu diajarkan maryam kepadanya. Ia ingin mengabadikan maryam di hatinya.
Lambat laun kekuasaan taliban di afganistan mulai mengendor. Mereka menerima dan melindungi osama bin laden yang merupakan buruan internasional/ negara-negara eropa dan amerika mengecam tindakan taliban. Maka negara-negara adikuasa itu pun menyatakan perang pada taliban.
Kehidupan di kabul mulai merangkai seiring kedatangan pasukan barat yang hendak menyingkarkan taliban. Sekolah-sekolah mulai didirikan dan pohon-pohon mulai ditanam. Terdapat secercah cahaya hadir di tanah kabul yang gersang.
Laila menyampaikan keinginannya pada toriq yaitu ia ingin kembali pulang ke tanah ia dilahirkan bila toriq juga menyetujuinya. Awalnya toriq tidak langsung menyetujui permintaan laila, menurutnya kehidupan mereka di sini sudah sangat baik, lalu mengapa laila ingin kembali lagi?
Laila mengatakan bahwa ia ingin melihat kembali tanah tempat ia dilahirkan, tempat mommy melepaskan putra-putranya untuk berjihad, ia ingin pergi ke temapt maryam dulu berada. Ia ingin berada di sana, di tanah penuh kenangan. Saat ini tanah itu sedang berusaha mekar kembali, maka ia harus pulang.
Akhirnya toriq setuju dan setelah membujuk anak=anak yang kini sudah sangat mencintai tempat baru mereka akhirnya mereka kembali pulang, ke tanah tercinta yang dulu menyesapkan luka ke dalam hati mereka.
Saat tiba di afganistas, mereka singgah terlebih dahulu di herat kota dulu maryam tinggal. Laila ingin mengunjungi kolba maryam di gul daman. Laila mendatangi rumah mullah faizullah, guru sekaligis teman maryam kecil. Puteranya, hamza, kini sudah dewasa sangat senang mendengar nama maryam namun kembali meredup setelah mengetahui bahwa ia telah tiada. Ia mengatakan bahwa ayahnya sanagt menyayangi maryam dan hatinya hancur ketika mengetahui maryam dinikahkan secara paksa. Hamza mengantarkan laila menuju rumah maryam dulu tinggal bersama nana.
Di kolba itu, laila seakan dapat melihat bayangan mayam kecil tinggal. 15 tahun wanita berhati putih itu tinggal di sini, di rumah ini, di halaman ini, dan kini maryam memenuhi ruang pandang laila.
Sebelum pulang, hamza memberikan titipan ayahnya untuk maryam kepada laila. Ia mengatakan bahwa ini adlah pemberian jalil, ayah maryam, sebelum meninggal. Awalnya laila ragu untuk membuka kotak itu. Di hotel akhirnya ia membukanya dan mendapati sebuah cd film pinokio dan sebuah surat.
Isi surat itu membuat laila terdiam. Dalam surat itu, jalil ayah maryam ingin meminta maaf sekaligus mengucapkan salam perpisahan. Sakit jantung yang dideritanya sudah semakin parah. Jalil merasa sangat bersalah kepada maryam karena belasan tahun yang lalu ia tidak membukakan pintu untuk menemuinya saat maryam datang ke rumahnya. Ia meminta maaf karena tak kuasa membela maryam saat hendak dinikahkan. Ie merasa bersalah. Ia meminta maaf. Ia mengakui dirinya sanagat pengecut karena lebih memilih martabat dan kehormatannya dari pada puteri kecilnya sendiri yang kini ia sesali karena saat perang terjadi hal itu sama sekali tak ada artinya. Perang yang merenggut istri dan anak-anaknya. Ia menyesal, sangat menyesal. Dan ia memahami menagapa maryam begitu marah padanya, mengapa maryam tak juga mau menemuinya saat ia mendatanginya ke kabul. Ia mengerti, ia bersalah.
Sekarang jalil sangat merindukan maryam. Merindukan waktu-waktu bersamanya. Waktu di mana mereka berdua hanya mengahbiskannya berdua. Jalil mengatakan bahwa sebagian hartanya telah diarampas komunis namun bersyukur ia dapat menjual sebagian lainnya dan menyertakan nama maryam atas kepemilikannya.
Ia mengatakan bahwa mungkin dirinya bisa dianggap telah berusaha membeli maaf puterinya namun ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia menyediakan uang asing untuk maryam. Jalil mengatakan bahwa ia sanagt mencintai maryam. Sangat mencintainya.
Laila menceritakan isi surat pada toriq yang dengan hangat menatapnya.
.....
Kehidupan mereka di kabul seperti halnya pohon yang sedang di tanam kembali di tanah-tanah penuh harapan ini. Laila dan toriq membantu zaman membesrakan panti serta sekolah yang ia kelola. Wajah mereka terpampang di halaman sebuah surat kabar. Laila teringat perkataan giti dan hasa kedua teman kecilnya bahwa suatu saat saat mereka hanya bisa menjadi istri di rumah, tampang laila akan berada di subuah halaman muka koran karena laila dapat menjadi apapun yang ia mau.
Laila merasa hatiny hancur ketika ia tak mendapat informasi di mana taliban menguburkan mayat maryam.
 Bagi laila maryam berpendar di hatinya, bersinar dengan cahaya indah seribu mentari surga. Sebuah makhluk kecil hadir kembali di dalam perut laila. Semua anggota keluarga meributkan nama laki-laki yang pantas. Dan bila nanti anaknya ini adlaah seorang perempuan, maka laila sudah mempunyai sebuah nama.


THE END


                                                                                   

No comments:

Post a Comment