siapa yang menyangka kalau ma ngeresensi buku ini setelah di minta orang untuk skripsinya hahha
lumayanlah~
ini super banget!nyesek! konflik batinnya dapet!
dan, lebih kerennya kalau baca novelnya langsung bahasa arab, bukan terjemahan :)
Mariam
seorang anak berumur 15 tahun yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, Nana.
Tidak, Mariam bukanlah seorang anak yatim, ia masih memiliki seorang ayah, yang
bahkan mengunjunginya seminggu sekali dalam hidupnya. Apakah kedua orangtuanya
bercerai? Tidak, tidak mungkin karena menikah saja keduanya tidak.
Mariam
adalah seorang harami, bayi yang terlahir bukan berasal dari pernikahan namun
hasil perzinahan yang dilakukan seorang tuan kepada pelayannya yang masih muda
lagi miskin. Ketika Nana ketahuan hamil, ia diusir dari kediaman keluarga besar
Jalil, seorang saudagar kaya yang terhormat di sebuah kita kecil bernama Herat,
yang merupakan ayah kandung Mariam.
Walaupun
diusir, namun Jalil masih memperdulikan kehidupan Nana dan calon bayinya.
Dibangunkan sebuah kolba di desa dekat Herat. Walaupun kondisinya sangat
berbeda dari kehidupan Jalil yang mewah dan serba cukup, namun semua proses
pembangunan tempat tinggal nana dan maryam dilakukan oleh tangan Jalil sendiri dengan
bantuan 2 putranya, sebuah cara untuk membayar dosa.
Mariam
kecil tidak pernah mengerti arti sulit yang Ibunya lalui dalam hidup. Di
matanya ia adalah seorang putri yang memiliki ayah yang baik, yang selalu
menceritakan hal-hal indah yang ada di luar sana. Yang memberitahukannya bahwa
ia memiliki banyak saudara. Saat Nana
mengatainya dengan sebutan harami, Mariam tidak mengerti. Yang ia tahu selama
ini, ibunya tidak pernah mengharapkan maryam untuk bahagia. Mariam kecil sangat
mencintai Jalil, ia selalu merindukan
hari pertemuan mereka, hari Kamis.
Pada
hari itu, Jalil akan datang dengan tampilan rapi berambut kelimis dengan aroma
tubuh yang lembut. Di hari itu mereka akan menghabiskan waktu berdua. Bermain
di sungai, melewti ilalang, mendengar cerita-cerita indah jalil tentang herat
dan keluarganya. Mariam sangat merasa bangga pada ayahnya yang justru
sebaliknya selalu dihujat dan dicaci oleh Nana saat kepulangannya. Nana selalu
mengejek dan menertwakan kepolosan Maryam menganggap ayahnya.
Nana
selalu mengatakan pada Maryam untuk tidak mempercayai cerita bohong ayahnya,
segalanya adalah pemutar balikan fakta. Bila tidak, lalu mengapa Maryam, salah
satu putri Jalil harus hidup menderita dalam kekurangan dan kesederhanaan
sedangkan 10 saudara lainnya hidup di bawah atap yang nyaman dan aman. Bahkan
proses melahirkan Maryam pun tidak diperdulikan oleh Jalil. Namun dibalik itu
semua, sikap Nana akan berubah saat berhadapan langsung dengan Jalil. Ia akan
menjadi pendiam dan tampak pemalu. Ia akan berusaha sebaik mungkin menjaga
sikap, bahkan ia berdandan lama dan rapi untuk bertemu Jalil. Mungkin inilah
yang disebut rasa suka itu. Sebenci apapun kita pada dia yang pernah memasuki
hati kita, tapi tetap di hadapannya kita kan takluk karena semua hal yang kita
benci seolah lenyap untuk sesaat. Sikap Nana pada Jalil, mungkin karena ia
merasa diperlakukan secara tidak adil. Dia yang menjadi korban, dia yang yang
dipersalahkan, dan dia yang tersingkirkan.
Mariam
kecil tidak pernah mendengarkan kata-kata Nana. Ia hanya merasa mungkin benar
ibunya menderita namun mengapa ibunya tidak membiarkan saja ia bahagia dengn
Jalil. Benar, Nana hanya tidak ingin ia bahgia, jahatnya ia menginginkan maryam
untuk merasakan penderitaan yang sama. Sebuah pemikiran yang nantinya akan
disesali oleh maryam.
Mariam
ingin selalu bersama dengan Jalil bahkan ia meminta Jalil untuk membawanya ke
Herat. Sebuah keinginan yang tidak mungkin dikabulkan oleh Jalil karena hingga
saat ini keluarganya masih tidak bisa menerima Nana dan Maryam. Hingga suatu
saat Maryam berusia 15 ia meminta hadiah ulang tahun pada Jalil untuk
membawanya menonton di bioskop milik Jalil. Dan dengan perasaan berat Jalil
berbohong. Mariam yang polos tidak mengerti alasan penolakkan Jalil. Dengan
tekad yang nekad, dia pergi menuju Herat, sebuah kota yang selama ini hanya dia
dengar dari cerita indah ayahnya.
Mariam
kagum melihat kota tempat ayahnya tinggal. Ia berfikir bahwa selama ini Nansa
hanya berbohong saja. Di sini, di kota ini, tidak ada yang menghinanya sebagai
seorang harami. Itu semua hanya akal-akalan nana yang tidak mengingkan mariam
hidup bahagia. Mariam tidak menemukan kesulitan untuk menemukan alamat Jalil,
seseorang yang terhormat di kota Herat. Dengan perasaan senang dan penuh harap,
Maryam memencet bel pagar besar rumah mewah Jalil. Namun sayang kehadirannya di
sana tidak diharapkan. Sampai malam hari Jalil tidak juga mau menemuinya.
Mariam terpaksa menunggu di depan pagar dan tertidur. Pagi harinya petugas di
rumah Jalil memaksanya untuk pulang. Dengan tangisan kecewa, ia melihat
sepasang mata yang selama ini ia kenal menatapnya dari balik jendela. Di saat itu mariam sadar, bahwa nana bukanlah
pembohong. Nana benar, maryam tidak pernah diinginkan oleh Jalil.
Saat
pulang ke rumah, hati Mariam kembali diselimuti oleh kepedihan, Nana, ibunya
yang selama ini ia anggap berbohong telah meninggal dunia, menggantungkan
dirinya sendiri.
...........................
Sepeninggal
nana, Jalil membwa Mariam ke rumahnya. Di sana ia melihat betapa megah dan
mewahnya rumah sang ayah. Ia juga bertemu dengan ibu-ibu tirinya beserta
saudara-saudarnya. Seharusnya ia bahagia, namun ternyata yang dikatakan oleh
Nana benar. Di sini bukanlah tempatnya. Nana benar, bahwa tidak ada seorang pun
ynag ia miliki kecuali Nana. Dan nana kini telah pergi.
Keluarga
besar Jalil tidak bisa menerima maryam untuk tinggal lebih lama dengan mereka
karena ia adalah sebuah aib. Sebuah benalu. Dengan jahatnya, mereka
merencanakan pernikahan maryam dengan seorang duda berumur 40 tahun.
Mariam
yang baru berusia 15 tahun menolak rencana tersebut. Ia menangis meminta
ayahnya untuk membela. Namun jalil yang dikelilingi istri-istrinya tidak dapat
berbuat apa-apa. Dengan perasaan terluka Mariam tidak kuasa menahan airmatanya,
hatinya juga lebih pilu saat tahu bahwa kedua saudarinya yang seusia dengannya
bahkan saat ini berniat untuk melanjutkan kuliah.
Hari
pernikahan pun tiba. Dengan menahan tangis, maryam mengucapkan janji ikrar
pernikahan. Di saat itu pula ia baru melihat suaminya, Rasheed seorang pria
berumur 40 tahun, bertbuh gempal, dengan lemak di beberapa bagian wajahnya.
Di
hari itu pula mereka berdua pergi menuju rumah Rasheed yang berada di kabul.
Dengan hati yang terluka parah, mariam tidak mau berbicara dengan Jalil. Ia
hanya ingin segera pergi. Pergi dari seseorang yang selama ini sangat ia
cintai.
Di
kabul, mariam mendaptkan dirinya sebagai seorang yang asing. Tak ada yang ia
kenal, bahkan ia sendiri tak mengenal suaminya. Rasheed memperlakukannya dengan
baik, ia tidak apa-apa, ia memberikan waktu untuk mariam bahkan ia menymbutnya
dengan sebuah buket bunga putih yang ia letakkan di jendela kamar maryam.
Keduanya tidur di ruang terpisah karena rasheed lebih menyukai tidur sendiri.
Mariam yang polos masih merasa takut untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang
istri. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah lewat beberapa hari Rasheed
memintanya untuk menyadari dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Maka dengan perasaan yang masih berat, akhirnya maryam mencoba.
Mariam
mulai keluar dari rumah dan berbelanja. Ia pun bertemu dengan tetangga-tetangga
sekitar. Ia memasak, menyiapkan makan malam untuk rasheed. Dan pada malam hari
Rasheed pun mendatangi kamarnya. Awalnya maryam merasa ragu, namun ia tidak
bisa berbuat apa-apa karena kewajibannya sebagai seorang istri. Butuh waktu
lama untuk maryam hingga bisa beradaptasi dengan hidup dan peran barunya.
Suatu
ketika maryam mendatangi kamar Rasheed di siang hari. Dia hendak membereskan
kamar tersebut. Tidak sengaja ia menemukan sebuah majalah dewasa bergambar
wanita-wanita tanpa busana. Ada percik amarah dalam dadanya setelah mengetahui
prilaku suaminya. Suami yang berkata beberapa hari yang lalu padanya bahwa jika
mereka hendak berpergian, maryan harus mengenakan burqa, kerudung panjang
bercadar. Tapi apa yang dilihatnya kini, ia merasa marah.
Mariam
berusaha menenangkan pikirannya. Dan ketika ia sudah mulai bisa berfikir jernih
lagi, sebuah pikiran terlintas. Mungkin wajar bagi rasheed seorang duda yang
sudah bertahun-tahun lamanya kesepian dan tidak terpenuhi kebutuhan biologisnya
untuk melakukan hal ini. Ini manusiawi. Sudah berapa lama rasheed merasa
kesepian. Maryam pun menemukan sebuah foto anak laki-laki Rasheed yang telah
meninggal tenggelam di danau. Maryam merasa seakan-akan ia mampu merasakan reka
ulang kejadian yang rasheed rasakan. Bagaimana ia merasa pedih kehilangan. Lalu
perhatian maryam beralih pada sebuah foto berisi sebuah keluarga, rasheed dan
istrinya yang tampak mesra namun canggung. Entah mengapa maryam tidak bisa
melepaskan pandanganya dari foto tersebut. Ia sadar bahwa ada sulutan api dalam
dadanya. Ia tidak menyukai foto itu. Maryam merasakan bahwa hubungan mereka
akan menjadi baik.
Waktu
pun berlalu. Maryam dan rasheed mendapatkan sebuah berita bahagia. Maryam hamil.
Rasheed begitu riang. Ia menyenandunglan sebuah lalu. Ia begitu menjadi
perhatian pada Maryam dan juga saat bersikeras bahwa anak mereka nantinya
adalah laki-laki, yang tidak sedikit membebani maryam.
Saking
senangnya rasheed sudah mulai berbelanja pakaian bayi laki-laki dan membuatkan
sebuah ranjang kecil. Hari-harinya tampak cerah. Begitu pula dengan maryam yang
merasa terhormat akan menjadi seorang ibu. Ia merasakan kehidupan baru di dalam
perutnya.
Namun
rupanya kabut masih setia menemani jendela kehidupan maryam. Ia mengalami
keguguran saat mandi di pemandian umum.
Dan itu berlangsung hingga 8-9 kali dalam hidupnya. Ia tidak lagi hamil. Sikap
rasheed lambat laun semakin dingin dan seakan tak peduli dengan keberadaan
maryam. Baginya maryam adalah benalu dan hanya dapat memberikan makanan sampah
pada rasheed. Apapun yang dilakukan maryam adalah salah dan akan selalu
dicarikan kesalahan agar dapat berpuas hati menghinya, bahkan memukulnya.
Mariam semakin hari semakin ketakutan. Ia selalu khawatir dengan kondisi hati
rasheed yang gampang berubah-ubah. Ia tak mengenali suaminya sendiri. Suami
yang hanya bisa memarahi dan mencari kesalahan, serta mendatanginya hanya untuk
menagih kewajiban. Hari-hari terasa gelap di hati maryam.
Bag
2
Malam
itu ketika kudeta Uni Soviet atas Afganistan terjadi, gadis Tajik berambut
pirang itu lahir. Namanya Laila, sebuah kecantikan malam. Anak bungsu dari 3
bersaudara yang keduanya adalah laki-laki. Kedua abangnya yang pergi berjihad
melawan komunis uni soviet. Kedua abangnya yang sangat disayangi dan
dibanggakan oleh mommy, hingga membuat laila sering merasa terabaikan.
Ayah
laila adalah seorang mantan guru SMA yang sempat lulus dari Universitas Kabul.
Tubuhnya ramping seperti wanita. Hobinya adalah belajar dan membaca buku. Laila
sangat menyayangi Babi yang selalu juga menyayanginya dan menganggap berarti
keberadaannya. Seorang tipe ayah yang sangat baik, namun sering dikeluhkan oleh
mommy karena ketidak ahliannya dalam mengurusi rumah. Bila laila membutuhkan
bantuan dalam belajar, kesulitan mengartikan sebuah kata dalam buku, maka
Hakim, Babinya, adalah orang yang tepat. Namun bila ia kesulitan untuk membuka
tutup kaleng, maka ia akan mendatangi mommy.
Mommy
adalah seoang ibu periang yang sangat suka berlebihan dalam mengekspresikan
emosinya. Namun setelah kepergian kedua abang laila untuk berjihad, mommy mulai
berubah. Ia marah atas sikap Babi yang tidak mau melarang kedua puteranya. Dan
selama bebrapa waktu terakhir, mommy mempunyai 2 macam hari; hari baik dan hari
buruk.
Di
hari baik, mommy akan keluar kamar dengan tersenyum manis, memasakkan makan
malam untuk laila dan babi. Namun di hari buruknya, mami bahkan tidak mau
beranjak dari kamarnya kecuali untuk melaksanakan sholat.
Laila
mempunyai seorang teman bermain berusia 2 tahun lebih tua darinya, Toriq yang
kehilangan satu kakinya karena ........
Toriq
adalah seorang pastun yang tinggal dengan ayahnya yang lembut dan memiliki
lemah jantung serta ibunya yang baik hati, yang selalu memakai wig ungu.
Keluarga toriq selalu menerima baik kedatangan laila. Di keluarga tersebut
laila merasakan kehangatan yang beberapa waktu terakhir seperti lenyap.
Toriq
dan laila sering menghabiskan waktu bersama. Bagi laila, toriq sudah dianggap
sebagai penjaganya dari anak-anak nakal yang sering mengganggunya. Hubungan
mereka sangatlah akrab. Bahkan ketika toriq beserta keluarganya harus pergi
mengunjungi saudara mereka untuk beberapa minggu, Laila merasa sangat kesepian.
Ia merindukan Toriq. Baginya menunggu adalah sebuah hal yang sangat tidak
menyenangkan.
Hubungan
keduanya terus tumbuh dari waktu ke waktu hingga suatu saat mereka menonton
sebuah film di bioskop. Film yang diputarkan adalah sebuah film rusia yang
dialih suarakan ke dalam bahasa afganistan. Keduanya merasa canggung saat melihat
adegan ‘kissing’ 2 pemain utama. Di sanalah mulai tumbuh sebuah rasa berbeda
dari apa yang selama ini hidup dalam hubungan persahabatan mereka.
Bagi
Laila, tinggal di rumah tidaklah menyenangkan dengan sikap mami yang sama
sekali seperti tidak mengabaikan kehadirannya. Hanya babi dan toriq yang ia
miliki. Juga 2 orang teman sekolahnya Giti dan Hasna. Kedua temannya yang
sering bermain dan menemaninya. Dan juga yang memahami perasaannya.
Pada
saat Uni Soviet menarik mundur pasukannya dari Afganistan, Mommy bangkit dari tempat tidur yang selama ini
selalu menemaninya. Ia meminta babi untuk mengundang para tetangga, mereka akan
mengadakan pesta syukuran.
Para
tetangga menyambut bahagia perayaan pesta. Di mana-mana terdengar obrolan
terkait kemenangan mujahid. Para wanita sibuk menyiapkan hidangan, sedangkan
para pria bermain catur atau sekedar mengobrol sambil meminum teh. Para gadis,
laila, Giti dan Hasna sibuk di dapur.
Toriq
yang sedang tidak memiliki pekerjaan dengan jahil memasuki dapur. Ia mencomoti
hidangan yang ada. Para gadis pun marah melihat prilaku toriq. Laila hanya bisa
melirik tak berbicara. Baru kemarin mommy memperingatkanny tentang hubungannya
dengan toriq yang berkemungkinan besar menimbulkan gosip-gosip yang tidak enak
didengar karena hubungan mereka kini bukanlah sekedar hubungan pertemanan antar
anak kecil saja. Dan Laila menyadari hal itu.
Di
tengah pesta, terjadi perkelahian antar seorang tajik dan pastun. Semua pria
lainnya mencoba untuk melerai, namun sayangnya pertikaian bertambah menjadi
lebih rumit. Semakin banyak tangan-tangan mengepal ingin meninju. Dan di
tengah-tengah itu semua, laila melihat kaki palsu oriq tergeletak di tanah.
Di
tengah pesta, toriq memberikan isyarat kepada laila untuk pergi mengikutinya
menuju tempat mereka biasa bertemu. Di sana mereka memperbincangkan isu-isu
yang sedang terjadi. Di sana juga toriq mempertunjukan kebiasaan barunya,
merokok. Laila tidak menyukai hal tersebut. Dia bertanya untuk alasan apa toriq
melakukan semua hal yang bukan dirinya, bermain dengan geng yang tidak jelas,
merokok dsb. Toriq memberikan jawabannya yang membuat laila cemburu, bahwa
hal-hal tersebut adalah yang disukai para gadis, menjadi seksi. Melihat laila
cemburu, toriq mengucapkan kata-kata yang membuat laila terdiam. Bahwa selama
ini yang ada di pikirnnya hanyalah laila. Lalu toriq pun memegang kedua tangan
laila dan menciumnya.
Hubungan
keduanya terus berlanjut. Sudah beberapa kali mereka berciuman. Begitu juga
dengan kondisi afganistan yang terus berkembang. Walaupun setelah uni soviet
pergi namun antek-anteknya di bawah Najibullah masih bertahan menguasai
afganistan. Namun akhirnya setelah uni soviet dinyatakan kalah dalam
peperangan, semua antek komunis itu ditarik mundur. Sayangnya ketenangan dan
keamanan yang dirasakan tak berlangsung lama. Kemenangan yang diraih para
mujahidin kini menjadi masalah baru. Siapa yang akan memimpin macam-macam suku
yang ada? Siapakah yang berhak? Semua kelompok mengemukakan bahwa kelompoknya
lah yang pantas. Semuanya tidak ada yang mau mengalah. Maka pecahlah perang
saudara.
Keadaan
di kabul menjadi bertambah parah. Roket meluncur dengan bebas di mana-mana.
Perempuan tidak aman untuk pergi keluar sendirian. Maka jadilah toriq menjaga
laila ke mana-mana. Giti, sahabat laila meninggal terkena roket. Banyak dari
keluarga kabul memutuskan pindah dari afganistan ke negara-negara tertangga.
Babi yang merasa khawatir meminta mommy
untuk pindah. Namun mami yang merasa harus tetap tinggal di tanah yng kdua
putranya berjuang hingga mati. Ia tidak bisa begitu saja pergi.
Suatu
hari mami merasa sakit, dan di tengah kekecaman Babi mengantar mami ke dokter.
Laila yang sendiri menerima kedatangan toriq yang membawa berita bahwa ia
sekeluarga akan pergi mengungsi ke pakistan. Laila tampak sangat terpukul. Ia
tidak bisa menerima semua itu. Di tengan malam itu, toriq mencoba
menenangkannya. Ia memeluk laila dan menciumnya. Pada malam itu sebuah dosa
telah mereka lakukan.
Laila
masih merasa malu dan bersalah atas apa yang telah ia lakukan. Hari ini dia dan
keluarganya juga akan mengungsi. Babi berhasil membujuk mami. Mereka pun
mengemasi barang-barang. Di tengah-tengah kesibukan itu, sebuah roket datng
bertamu di atas rumah mereka.
Bag
3
Laila
berhasil selamat dari roket yang menghatam rumahnya. Ia ditemukan oleh Rasheed,
tetangganya, di antara puing-puing bangunan. Beberapa hari pada awalnya, laila
tidak bisa mengingat apa yang terjadi dan ia juga mengalami gangguan pada
telinganya. Rasheed menyuruh maryam, istrinya, untuk merawat laila dengan baik.
Rasheed sangat memperhatikan gadis rambut pirang brumur 14 tahun tersebut.
Setelah
beberapa lam akhirnya laila mampu mengingat apa yang terjadi. Ia meraung-raung
dan tidak mau keluar kamar. Akhirnya dengan bujukan keras dari sepasang
suami-istri yang telah menolongnya, laila mau sedikit demi sedikit berangsur
pulih.
Suatu
malam, seorang laki-laki mencari laila. Dia membawa kabar tentang toriq yang
mengalami masa kritis di daerah sekitar pakistan. Laila merasa limbung
mendengar berita tersebut.
Rasheed mendatangi kamar maryam. Ia meminta maryam untuk
membantunya membujuk laila untuk menikah dengan rasheed. Hal ini tentu saja
membuat Maryam tersentak. Ia sangat tidak setuju. Timbul kecemburuan dalam
hatinya. Ia menolak ide rasheed. Namun rasheed sama sekali tidak mau menyerah.
Ia mengemukakan berbagai alasan. Ia berpendapat bahwa adalah hal yang tidak
baik dan benar membiarkan seorang gadis tinggal sendirian tanpa siapa apapun.
Sangat berbahaya.
Walau dengan terpaksa dan menyesal karena telah menolong gadis
tersebut, Maryam akhirnya setuju. Ia menjumpai laila dan menyampaikan maksud rasheed. Tanpa terduga Laila
menyetujuinya dan meminta untuk segera diberlangsungkannya pernikahan.
Rasheed merasa senang mendengar kabar tersebut, maka ia dengan
segera menyiapkan segala kebutuhan pernikahan. Karena membutuhkan banyak dana,
rasheed bahkan rela menjual cincin pernikahan maryam yang pada awalnya sempat ditentang
oleh laila.
Laila menyetujui pernikahan ini ternyata karena ia memiliki sebuah
rencana licik. Di badannya telah hadir sebuah benih hasil hubungan dosa yang ia
lakukan dengan toriq beberapa waktu yang lalu. Laila telah berfikir panjang
untuk sampai keputusannya ini. Ia menimbang-nimbang dan memprediksikan beberapa
piihan dan hasilnya yang akan ia terima di masa mendatang. Dan inilah pilihan
yang terbaik untuk dirinya dan juga bayinya. Dan untuk menutupi kebohongannya,
menutupi kehamilannya yang haram ini, ia harus melakukan pernikahan secepatnya.
Sebenarnya laila merasa bersalah kepada maryam karena telah melibatkannya
bahkan menyakitinya dalam rencana liciknya. Ia berusaha meminta maaf pada
maryam yang selalu bersikap dingin terhadapnya. Ia tahu ia salah tapi ia tidak
mau selalu menjadi buruk hubungan di antara mereka.
Maryam sebenarnya tidak menginginkan suasana seperti ini, namun ia
sadar hatinya tidak bisa dibohongi. Ia tersakiti dengan pernikahan ini. Ia yang
pertama kali hadir namun ia kini yang tersingkirkan. Perhatian rasheed sudah
tak ada lagi untuknya. Sebenarnya maryam tidak terlalu mempermasalahkan masalah
ini. Ia justru sebenarnya selalu merasa takut berada atau berdekatan dengan
rasheed yang berkemungkinan besar untuk menyakitinya sewaktu-waktu. Ia
sebenarnya merasa lega karena kini ia tak harus berhubungan atau berhadapan
langsung dengan rasheed. Namun tetap saja hatinya sakit.
Maryam dan laila membagi tugas mereka membenahi rumah. Maryam yang
memasak. Laila yang mencuci dan menjemur. Pernah terjadi pertengkaran di antara
mereka dan menyebabkan laila menangis di kamar nya dan ketahuan oleh rasheed yang
kemudian mendatangi maryam untuk menghajarnya. Laila berusaha untuk menahan
rasheed dan membela maryam, akhirnya rasheed mengurungkan niatnya untuk
menghajarnya, ia hanya mengancam maryam.
Hari persalinan laila pun tiba. Ia melahirkan seorang bayi perempuan
cantik yang diberi nama Aziza. Aziza memiliki mata yang sama dengan ayah
kandungnya, toriq. Rasheed yang selama ini selalu mendambakan seorang anak
laki-laki sama sekali tidak merasa senang dengan kehadiran aziza. Baginya, bayi
mungil itu hanya penambah masalah dan beban. Penyebab bau di kamarnya dan
pengganggu saat ia terlelap tidur. Dikarenakan sejaka awal rasheed
memperkirakan bahwa bayinya adalah laki-laki, maka semua pakaian bayi yang
tersedia adalah pakaian anak laki-laki.
Maryam dengan hati besarnya memberikan pakaian-pakaian bayi
perempuan yang dulu dia rajut untuk calon bayinya pada laila untuk aziza pakai.
Perasaan dingin maryam pada laila perlahan berkurang dimulai pada saat maryam
merasa terharu saat laila membelanya di depan rasheed. Inilah pertama kalinya
ia merasa dibela oleh orang lain. Maryam pun mulai jatuh cinta pada aziza kecil
yang sering meminta perhatian darinya. Dia merasa dibutuhkan dan dihargai. Dan
mulailah hubungan antar istri tua dan muda itu menjadi baik. Di tengah malam,
mereka berdua sengaja duduk di luar menikmati secangkir tah chai di bawah
kilauan bintang.
Rasheed tidak pernah sekalipun memperdulikan atau memanjakan aziza
kecil. Ia seperti tidak mencintai bayi mungil itu. Sedangkan laila sangat
mencintainya, seprti ia melihat wajah ayahnya, toriq.
Laila sangat bahagia berada dekat dengan putrinya, walaupun ia tahu
dan sadar bahwa terkadang rasheed sering menatap aziza dengan pandangan yang
tidak baik. Ia juga suka menyindir laila atau mengungki-ungkit hubungannya dengan
toriq. Pernah ia menatap maryam ingin diyakinkan, namun maryam tak mampu
memberi keyakinan.
Maryam kini sudah terbiasa dengan hidupnya yang mulai bersinar. Ia
merasa nyaman atas hubungan pertemanannya dengan laila. Inilah pertama kalinya
ia merasakan sebuah hubunga tanpa pamrih dalam hidupnya.
Kondisi kabul semakin waktu semakin bertambah parah. Dengan
pecahnya kelompok mujahid, peperangan antar saudara tidak bisa dihindarkan.
Setiap harinya puluhan roket meluncur ke rumah-rumah warga sipil yang tidak
bersalah. Semakin parah semakin liar.
Di suatu malam, laila menyampaikan rencananya pada maryam, bahwa ia
akan kabur dengan aziza dari rumah mereka. Ia mengajak maryam untuk ikut serta.
Maryam memikirkan rencana laila. Mungkin inilah saatnya, ia dapat menikmati
hari-hari bahagia. Tanpa ada sebutan harami padanya. Ia dapat melihat
bunga-bunga yang bermekaran
Pada pukul satu siang mereka bertiga pergi menuju terminal. Untuk
bisa berpergian jauh, seorang wanita harus didampingi oleh mahromya, maka laila
dan maryam mencari-cari sekiranya ada yang mereka kenal atau setidaknya dapat
membantu mereka. Akhirnya mereka meminta bantuan kepada seorang pria bernama
wakil. Dia setuju membantu mereka. Hingga pada saat mreka hendak memasuki bus,
opsir-opsir penjaga menahan mereka. Merka bertiga tidak diizinkan untuk
melanjutkan perjalanan. Rupanya wakil telah mengadukan tindakan 2 wanita dan 1
putri itu pada pihak yang berwajib. Maka mereka pun diantar pulang kembali ke
rumah rasheed.
Setiba mereka di rumah, rasheed sudah menanti mereka. Dengan segera
ia menyuruh laila dan aziza untuk naik ke lantai atas dan menahan maryam bersamanya.
Malam itu maryam akan mendapatkan hukuman dari rasheed yang berasumsi bahwa
rencana melarikan diri tu adalah ide maryam. Laila yang menyadari hal itu
segera berusaha menghentikan rasheed. Namun rasheed tidak peduli, ia memaksa
maryam masuk kamar bahkan dengan menendangnya sehingga aziza kecil terlempar ke
atas kasur. Laila dan aziza dikurung di dalam kamar. Rasheed menutup semua
akses ke luar dengan menempelkan triplek/ balok ke setiap jendela dan pintu ruangan kamar. Dari kamarnya laila
hanya bisa mendengar dengan satu telinganya apa saja yang dilakukan oleh
rasheed terhadap maryam. Ia mendengan serua gebukan, hajaran. Ia juga melihat
maryam, dari jendela yang menghadap ke luar, diseret paksa oleh rasheed ke
gedung perkas dan mengurungnya. Laila merasa sangat bersalah.
Rasheed sama sekali tidak memperdulikan kondisi keluarganya, ia
bahkan tidak sudi memberikan segelas air. Hingga 1 hari 2 malam, barulah ia
membuka kunci kamar dan membebaskan semuanya sembari mengancam untuk tidak
mengulangi kembali.
....
September 1996
Taliban datang menghapus semua jejak pecahan-pecahan ‘mujahid’
afganistan. Merka adalah anggota-anggota keluarga pashtun yang melarikan diri
ke pakistan saat afganistan masih berada di bawah kendali uni soviet. Taliban
dipimpin oleh seorang misterius yang disebut amirul mukminin. Rasheed menyambut
gembira kedatnagn taliban. Ia berasumsi bahwa sebaiknya memang kabul diperintah
oleh mereka yang mau bersatu. Ya taliban memang berastu dan mereka sangat
solid.
Taliban memegang teguh hukum-hukum islam. Namun sayangnya mereka
terlalu ekstrem bahkan bisa dibilng agak berbahaya. Mereka melarang segala
bentuk kemajuan di derah afgan. Tak ada sekolah, televisi, bahkan hiburan.
Semua bentuk duniawi dibantai. Mereka mewajibkan setiap wanita berpergian dgn
mahromnya. Mereka termasuk golngan islam radikal yang tidak segan-segan
menghukum siapa saja yg bersalah.
Banyak rakyat yang kehilangan pekerjaan, bangkrut dan menderita
kemiskinan ditambah dengan mengeringnya sumber-sumber mata air. Kehidupan
rakyat sungguh berada di ambang. Taliban
mnutp segala bentuk sekolah. Mereka menutup bioskod dan banyak bangunan
lainnya. Mereka memberlakukan jam maam dan juga membuat qonun baru negara
afganistan.
Rasheed tidak terlalu merasa terganggu dengan kehadiran taliban.
Baginya cukup untuk menumbuhkan janggut dan menjaga sholat awal waktu berjamaah
maka ia akan menjadi aman. Suatu malam laila merasakan kembali apa yang ia
rasakan saat akan memiliki aziza. Ya, dia sedang hamil anak rasheed. Dalam
benaknya laila merasa takut tak bisa mencintai benih yang ada di perutnya saat
ini. Dan ia pun berniat untuk membunuh makhluk tak berdosa tersebut. Namun
akhirnya laila tidak sanggup melakukannya. Ia takut tak bisa mencintai anak ini
seperti ia mencintai aziza.
Proses persalinan anak kedua ini mendaptkan banyak cobaan. Di masa
itu seorang wanita hanya diperbolehkan berobat ke rumah sakit khusus waita yang
hanya berjumlah 1, jdilah laila yang sudah di ujung persalinannya harus
mengantre terlebih dahulu. Sebuah perjuangan yang harus dilalui oleh seorang
ibu yang melahirkan dengan cara caesar yang amsih sangat sederhana, yang dapat
membuat maryam merasa begitu hormat dan memuliyakan harkat seorang ibu. Bayi
itu dinamai zalmai, sorang anak laki-laki yang banyak mewarisi ayahnya,
rasheed.
Rasheed yang mendambakan anak laki-laki merasa sangat senang dan
mempersiapkan banyak hal untuk pahlawan kecilnya. Zalmai adalah anak yang baik
dan sangat menyayangi ibunya. Namun bila saat bersama resheed maka ia berubah
menjadi anak nakal, manja dan pemarah.
Aziza tumbuh menjadi gadis bermata indah dengan warisan rambut
seperti ibunya. Ia tumbuh menjadi kakak yang pengertian pada adiknya. Di saat
zalmai mengamuk, maka azizah lah yang mampu menenangkannya. Ia menjadi lebih
dewasa dibandingkan anak seumurannya.
Sudah dua tahun taliban datang dan kemarau tak juga mau berlalu.
Sungai kabul telah mengering. Zalmai sudah berusia 2 tahun. Azizah tidak pernah
mengeluh atau protes dengan perlakuan rasheed padanya bahkan ia sama sekali
pernah merasa cemburu pada zalmai. Maryam dengan bekal ilmu yang dulu ia
dapatka dari Mullah, guru sekaligus temannya saat ia amsih tinggal di kolba
bersama nan, maryam mengajarkan aziza sholat dan menghafal surat-srat pendek.
Bagi maryam, inilah satu-satunya harta yang ia miliki.
Suatu hari rasheed membeli sebuah tv bekas untuk zalmai. Meryam dan
laila mengusulkan untuk menggali lobang tempat persembunyian tv kalau kalau
taliban datang memeriksa rumah mereka. Dan ada suatu hari pernah azizalah yang
harus bersembunyi di dalam lubang dengan dilampisi sebelumnya dengan plastik.
Rasheed suatu ketika mengemukakan rencananya untuk menjadikan aziza
pengamen di perempatan masjid dekat lingkungan mereka dan tentu saja laila
menentang habis-habisan rencana tersebut bahkan ia dengan berani menghajar
rasheed.
Pada akhir musim panas, toko sepatu rasheed hangus terbakar.
Kondisi ekonomi keluarga mereka berada dalam ambang kehancuran. Mereka menjual
segala macam barang berharga yang mereka punya. Rasheed mencoba untuk bekerja
di beberapa tempat yang akhirnya ia dipecat keluar karena kinerja dan
personaliti yang kurang bagus. Untuk mempertahankan hidup, rasheed mencoba
berbagai cara, ia bahkan mencuri sisa makanan dr temapat ia bekerja untuk
zalmai. Tubuh aziza kini dapat terlihat jelas lekuka tulangnya. Maryam yang
melihat ambang kematian di depan matanya tidak bisa tinggal diam.
Maryam dan rasheed pergi ke sebuah hotel untuk bisa menelpon ke
kediaman jalil, ayah maryam. Namun sayang, Jalil telah meninggal berthaun-tahun
yang lalu yang membuat maryam terkesiap dan menahan kesedihan. Tahun itu adalah
tahun dimana rashedd mengunjunginya ke kabul, tapi maryam sama sekali tak mau
menjumpainya bahkan erobek surat yang ditujukan padanya. Betapa ia merasa
menyesal. Saat itu ayahnya sedang berusaha mengucapkan selamat tinggal. Maryam
teringat jalil, semua ceritanya, suaranya. Ia merindukannya.
Untuk menghemat biaya, akhirnya diputuskan bahwa aziza akan dikirim
ke sebuah panti asuhan yatim untuk tinggal di sana. Mereka sepakat berbohong
dengan mengatakan bahwa ayah aziza telah wafat karena perang. Aziza diterima
dengan baik oleh zaman, si pemilik panti, yang sangat menyayangi anak-anak. Di
saat terkhir, aziza meraung-raung tidak mau ditinggalkan sendiri oleh ibunya.
Sedangkan laila yang memakai burqa tak sanggup menahan tangisnya.
Setiap hari, laila memaksa rasheed untuk menemaninya mengunjuangi
aziza ke panti asuhan. Setiap kali laila dan aziza bertemu, aziza akan
menceritakan apa-apa yang ia lalui dan ilmu yang ia pelajari dari zaman.
Rasheed tidak bisa selalu menuruti permintaan laila sehingga seringkali laila
nekat pergi sendiri walau ditahan, dihukum oleh pihak aparat. Namun semua perih
itu terbayar saat akhirnya ia dapat bertemu dengan aziza dan menghabiskan waktu
hingga berjam-jam bersamanya.
Zalmai kecil yang sangat memuja ayahnya tidak menyukai kehadiran
laki-laki pincang itu, dia yang datang menemui ibunya, toriq yang masih hidup.
Ternyata selama ini rasheed berbohong tentang keadaan sekarat yang dialami
toriq. Ia membayar seseorang untuk menipu laila. Dan inilah toriq yang sudah
dewasa kembali datang untuk menemui laila.
Toriq menceritakan perjalanan hidupnya. Ayahnya meninggal ketika
tak sanggup lagi menahan lemah jantungnya. Keadaan ekonomi yang buruk memaksa
toriq untuk melakukan sebuah pekerjaan nista yaitu menjadi kurir sabu-sabu, dan
malangnya ia tertangkap dan dijebloska selama kurang lebih 5 tahun. Ibunya yang
telah menua beberapa kali datang untuk mengunjunginya namun tak pernah
sekalipun mereka bertemu. Dan akhirnya ibunya pun pergi menyusul ayah toriq.
Di penjara toriq bertemu dengan Salim seorang narapidana kawakan
yang tahu betul seluk beluk penjara dan berprilaku seperti ayah kepada toriq.
Dari salim, toriq mengetahui kabar ibunya, dan dari salim juga toriq akhirnya
mendapatkan pekerjaan serta tempat tinggal saat keluar dari penjara. Salim
memberi arahan pada toriq untuk mendatangi Sayed saudara salim atas
rekomendasinya. Di sana ia diperlakukan dengan baik dan diberi ujian menjadi
sorang pelayan. Setelah melihat kinerja toriq yang baik akhirnya sayed menerima
toriq berkerja dan memberikannya tempat tinggal.
Laila mendengarkan cerita toriq dengan seksama. Ia dapat
membayangkan kehidupan yang toriq lalui. Jauh di hati laila ia senang melihat
toriq masih hidup namun juga menyesal karena telah mengkhianatinya. Ia yang
telah bersuami dan memiliki anak.
Selama beberapa hari toriq selalu datang mengunjungi laila di saat
rasheed sedang bekerja. Zalmai yang melihat kedatangan toriq merasa tidak
senang dan selalu mengadu pada ayahnya. Hal ini menimbulkan perang setiap malam
di rumah mereka. Rasheed menuduh laila telah mengkhianatinya dan laila membalas
dengan mengatakan bahwa rasheed selama ini telah membohonginya.
Di suatu pertemuan laila menceritakan pada toriq mengenai aziza.
Toriq saat senang mendengarnya dan rindu ingin menjumpainya.
Suatu malam setelah aduan zalmai pada rasheed, sebuah perang besar
terjadi. Rasheed dengan kejamnya memukuli laila dan dia mngatakan bahwa ia
sudah tahu selama ini bahwa aziza adalah seorang harami. Bukannya menahan diri,
laila justru membalas setiap perkataan rasheed. Hingga akhirnya rasheed kalap
dan menghajarnya habis-habisan. Zalmai terlebih dahulu telah dikurung oleh
rasheed di kamarnya agar tidak melihat apa yang akan terjadi. Maryam yang
melihat ambang kematian di depannya tidak bisa berdiam diri saja. Ia berusaha
melerai dan melepaskan cengkraman rasheed. Dengan tidak sadar ia mencakar dalam
wajah rasheed hingga berdarah-darah. Rasheed yang merasa keaskitan segera
mengalihkan perhatiannya pada maryam dan mulai menghajarinya. Laila yang
melepaskan diri segera membanting sebuah gelas ke kepala rasheed yang kini
kembali beralih pada laila dan mulai mencekiknya keris. Maryam yang melihat hal
itu sadar lambat tapi pasti sebelum rasheed mengeluarkan pistolnya untuk
membunuh laila atau mungkin bahkan membunuhnya juga, maryam harus menemukan
cara untuk menghentikannya. Akhirnya maryam mengambil sekop dan memukulkan
dengan sepenuh tenaga dan memanggil rasheed. Ayunan sekop itu membentur keras
kening rasheed yang kemudian tak lagi sadarkan diri. Maryam yang setelah itu
seperti sadar hanya bisa terdiam. Ia takut namun hatinya tenang.
Setelah merasa tenang akhirnya maryam memerintahkan pada maryam
bahwa ereka harus memindahkan mayat rasheed sebelum zalmai melihatnya. Laila
yang tertegun hanya bisa mengiyakan.
Maryam memita 1 malam untuk menenangkan diri dan memikirkan apa
yang seharusnya ia lakukan. Laila yang merasa takut dngan panik mengetakan
bahwa mereka harus segera pergi. Maryam berusaha menenangkan laila dengan
merebahkan kepala laila di atas pahanya. Dia mengatakan bahwa semuanya akan
baik-baik saja. Dia menggambarkan kehidupan mereka ke depannya bahwa semuanya
akan indah. Mereka, maryam, laila, toriq dan anak-anak akan pergi ke tempat
jauh. Mereka akan hidup bahagia bersama. Setelah laila tenang, maryam
menyruhnya untuk menemui zalmai.
Maryam merasa berdosa pada zalmai yang harus kehilangan babanya.
Laila mendapati zalmai yang belum tertidu karena menunggu babanya.
Ia tidak bisa tidur tanpa dibacakan doa babaloo oleh babanya. Zalmai bertanya
tentang keberadaan rasheed. Dan dengan berat laila berkata bahwa babanya sedang
pergi jauh dan tak diketahui kapan akan kembali. Sebuah kebohongan pertama yang
terucapa dan akan selalu terulang-ulang berkali-kali hingga nanti.
Keesokan harinya mariam telah memtuskan bahwa ia akan menyerahkan
dirinya kepada taliban. Laila yang mendengar hal itu tentu tidak setuju ia
meraung memohon pada maryam untuk mereka pergi bersama. Namun maryam
berpendapat bahwa bila semuanya pergi, maka taliban akan mengejar mereka. Dan
dengan pertimbangan seorang ibu, ia meminta laila untuk memikirkan yang
lainnya. Ia menyuruh laila untuk pergi bersama toriq dan zalmai dan membawa
aziza. Ia merasa tidak bisa mengenyahkan rasa berdosanya bila melihat zalmai
yang merindukan ayahnya.
................
Ketika maryam melihat penjara ini, ia merasa seperti melihat kolba
tempat dulu ia tinggal bersama nana. Di penjara dengan reputasinya sebagai
seorang pembunuh, maryam mendapatkan posisi yang terhormat di antara kalangan
para narapidana wnita lainnya. Mereka menyebut maryam sangat berani.
Maryam, tentu saja ia merasa takut. Ada kekhawatiran yang menjalar
dalam hatinya. Namun ia juga merasa bebas karena inilah pertama kalinya ia
merasakan bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Ia di sini tidak untuk berakhir
dalam kesendirian. Dia di sini untuk orang-orang yang ia cintai dan juga
mencintainya. Ia merasa berarti.
Di penjara ini ia melihat bagaimana wanita seringkali diperlakukan
rendah. Ia teringat ucapan nana bahwa seperti arah kompas angin yang selalu
menunjukan arah utara, kamanapun telunjuk itu akan diacungkan untuk menuduh
para wanita.
Hari pengadialn pun tiba. Maryam dengan teguhnya menolak semua
bentuk keringanan atau tawaran seperti mendatangkan saksi, mendapatkan
pengacara. Maryam mengaku tanpa ragu bahwa dia bersalah. Ketua hakim sidang
mengatakan bahwa sebenaranya berata baginya menjatuhkan hukuman untuk maryam
namun karena inilah peraturannya maka ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Waktu maryam di penjara hanya 10 hari lagi. Tidak ada seorang pun
yang mengunjunginya dan ia pun meminta penjaga untuk tidak membiarkan seorang
pun mengunjunginya. Maram seperti menikmati hari-hari terakhirnya di penjara.
Ia melihat kehidupan di penjara dengan perasaan yang damai. Namun jauh di lubuk
hatinya ia tahu bahwa sebenarnya ia takut.
Hari penghukuman pun datang dan maryam hanya bisa duduk di antas
truk tentara yang mengantarnya dengan perasaan gamang. Salah seorang tentara
menawarkan minum namuan ia dengan halus menolaknya. Tentara yang masih muda itu
bertanya pada maryam apakah iya merasa takut, dan maryam menjawab iya.
Tentara itu kemudian mengatakan bahwa ia mengingat ayahnya lewat
foto yang ia miliki. Ibunya mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang yang
pemberani. Namun ketika komunis datang saat ia masih kecil, ayahnya itu
menangis. Maka si tentara tersebut mengatakan bahwa wajar saja bila maryam
takut. Itu sangat wajar. Maryam pun menitikkan air matanya.
Saat tiba di stadion tempat hukuman gantung akan berlangsung,
mariam berusaha meneguhkan hatinya untuk tidak takut. Ia memantapkan dirinya
untuk kuat. Sebenarnya ia khawatir bahwa nanti insting binatangnya kan muncul.
Ribuan penonton menatap ke arah mariam yang berjalan menghampiri tiang
gantungan. Dengan patuh ia menuruti perintah seorang talib yang diberikan
untuknya.
....
Bag 4
Toriq membawa laila dan anak-anak tinggal bersama di hotel tempat
ia bekerja. Di hari pertama mereka tiba, keduanya pun menikah dengan dihadiri
Sayed, majikan toriq, yang membawa seorang mullah dan beberapa saksi. Keluarga
kecil itu tinggal di sebuah kamar di luar lingkungan hotel. Di sana terdapat 2 ranjang cukup untuk mereka berempat.
Kehidupan yang mereka lalui di tempat baru itu sangatlah nyaman. Di
mana-mana banyak pohon, makanan yang cukup dan hidup yang aman. Toriq dan aziza
tampak sangat akrab, walaupun mereka baru saja dipertemukan namun keduanya
berlaku seoan-olah sudah lama mengenal seperti kawan lama. Mereka layaknya
pasangan yang melengkapi, melihat hubungan yg baik antara ayah dan anak itu
laila merasa sangat bahagia. Beda halnya dengan hubungan toriq dan zalmai.
Zalmai masih terus menanyakan kabar babanya dan hal ini membuat hati laila
perih. Sampai kapan ia harus membohongi putra kecilnya ini.
Zalmai tidak pernah mau menerima uluran tangan atau berdekatan
dengan toriq. Ia selalu mengatakan bahwa babanya akan datang dan memukuli toriq.
Ia yakin bahwa babanya akan menang karena ia memiliki 2 kaki, sedangkan toriq
pincang. Mendengar hal itu laila measa tak enak, namun toriq hanya tersenyum
dan menatap sayang pada zalmai.
Keluarga kecil itu beramai-ramai melakukan tugas toriq di hotel
yaitu membersihkan seluruh kamar-kamar hotel. Di akhir pekan toriq mengajak
keluarganya untuk berjalan-berjalan melihat pakistan. Mendapatkan kehidupan
seperti ini membuat laila merasa nyaman. Terkadang ia merindukan maryam. Aziza
yang juga seringkali merindukan maryam melampiaskan kerinduannya melalui sholat
yang dulu diajarkan maryam kepadanya. Ia ingin mengabadikan maryam di hatinya.
Lambat laun kekuasaan taliban di afganistan mulai mengendor. Mereka
menerima dan melindungi osama bin laden yang merupakan buruan internasional/
negara-negara eropa dan amerika mengecam tindakan taliban. Maka negara-negara
adikuasa itu pun menyatakan perang pada taliban.
Kehidupan di kabul mulai merangkai seiring kedatangan pasukan barat
yang hendak menyingkarkan taliban. Sekolah-sekolah mulai didirikan dan
pohon-pohon mulai ditanam. Terdapat secercah cahaya hadir di tanah kabul yang
gersang.
Laila menyampaikan keinginannya pada toriq yaitu ia ingin kembali
pulang ke tanah ia dilahirkan bila toriq juga menyetujuinya. Awalnya toriq
tidak langsung menyetujui permintaan laila, menurutnya kehidupan mereka di sini
sudah sangat baik, lalu mengapa laila ingin kembali lagi?
Laila mengatakan bahwa ia ingin melihat kembali tanah tempat ia
dilahirkan, tempat mommy melepaskan putra-putranya untuk berjihad, ia ingin
pergi ke temapt maryam dulu berada. Ia ingin berada di sana, di tanah penuh
kenangan. Saat ini tanah itu sedang berusaha mekar kembali, maka ia harus
pulang.
Akhirnya toriq setuju dan setelah membujuk anak=anak yang kini
sudah sangat mencintai tempat baru mereka akhirnya mereka kembali pulang, ke
tanah tercinta yang dulu menyesapkan luka ke dalam hati mereka.
Saat tiba di afganistas, mereka singgah terlebih dahulu di herat
kota dulu maryam tinggal. Laila ingin mengunjungi kolba maryam di gul daman.
Laila mendatangi rumah mullah faizullah, guru sekaligis teman maryam kecil.
Puteranya, hamza, kini sudah dewasa sangat senang mendengar nama maryam namun
kembali meredup setelah mengetahui bahwa ia telah tiada. Ia mengatakan bahwa ayahnya
sanagt menyayangi maryam dan hatinya hancur ketika mengetahui maryam dinikahkan
secara paksa. Hamza mengantarkan laila menuju rumah maryam dulu tinggal bersama
nana.
Di kolba itu, laila seakan dapat melihat bayangan mayam kecil
tinggal. 15 tahun wanita berhati putih itu tinggal di sini, di rumah ini, di
halaman ini, dan kini maryam memenuhi ruang pandang laila.
Sebelum pulang, hamza memberikan titipan ayahnya untuk maryam
kepada laila. Ia mengatakan bahwa ini adlah pemberian jalil, ayah maryam,
sebelum meninggal. Awalnya laila ragu untuk membuka kotak itu. Di hotel
akhirnya ia membukanya dan mendapati sebuah cd film pinokio dan sebuah surat.
Isi surat itu membuat laila terdiam. Dalam surat itu, jalil ayah
maryam ingin meminta maaf sekaligus mengucapkan salam perpisahan. Sakit jantung
yang dideritanya sudah semakin parah. Jalil merasa sangat bersalah kepada
maryam karena belasan tahun yang lalu ia tidak membukakan pintu untuk
menemuinya saat maryam datang ke rumahnya. Ia meminta maaf karena tak kuasa membela
maryam saat hendak dinikahkan. Ie merasa bersalah. Ia meminta maaf. Ia mengakui
dirinya sanagat pengecut karena lebih memilih martabat dan kehormatannya dari
pada puteri kecilnya sendiri yang kini ia sesali karena saat perang terjadi hal
itu sama sekali tak ada artinya. Perang yang merenggut istri dan anak-anaknya.
Ia menyesal, sangat menyesal. Dan ia memahami menagapa maryam begitu marah
padanya, mengapa maryam tak juga mau menemuinya saat ia mendatanginya ke kabul.
Ia mengerti, ia bersalah.
Sekarang jalil sangat merindukan maryam. Merindukan waktu-waktu
bersamanya. Waktu di mana mereka berdua hanya mengahbiskannya berdua. Jalil
mengatakan bahwa sebagian hartanya telah diarampas komunis namun bersyukur ia
dapat menjual sebagian lainnya dan menyertakan nama maryam atas kepemilikannya.
Ia mengatakan bahwa mungkin dirinya bisa dianggap telah berusaha
membeli maaf puterinya namun ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia menyediakan
uang asing untuk maryam. Jalil mengatakan bahwa ia sanagt mencintai maryam. Sangat
mencintainya.
Laila menceritakan isi surat pada toriq yang dengan hangat
menatapnya.
.....
Kehidupan mereka di kabul seperti halnya pohon yang sedang di tanam
kembali di tanah-tanah penuh harapan ini. Laila dan toriq membantu zaman
membesrakan panti serta sekolah yang ia kelola. Wajah mereka terpampang di
halaman sebuah surat kabar. Laila teringat perkataan giti dan hasa kedua teman
kecilnya bahwa suatu saat saat mereka hanya bisa menjadi istri di rumah,
tampang laila akan berada di subuah halaman muka koran karena laila dapat
menjadi apapun yang ia mau.
Laila merasa hatiny hancur ketika ia tak mendapat informasi di mana
taliban menguburkan mayat maryam.
Bagi laila maryam berpendar
di hatinya, bersinar dengan cahaya indah seribu mentari surga. Sebuah makhluk
kecil hadir kembali di dalam perut laila. Semua anggota keluarga meributkan
nama laki-laki yang pantas. Dan bila nanti anaknya ini adlaah seorang perempuan,
maka laila sudah mempunyai sebuah nama.
THE END
No comments:
Post a Comment